MANAGED BY:
JUMAT
07 AGUSTUS
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA

METROPOLIS

Selasa, 07 Juli 2020 11:19
Gara-gara Tambang Ilegal, Warga Saling Curiga
Inspeksi yang dilakukan anggota DPRD Samarinda, pekan lalu.

PROKAL.CO,

LEMPAKE. Apa jadinya jika dua institusi melakukan inspeksi di titik yang sama, namun hasilnya berbeda. Gambaran itu yang terjadi pada aktivitas pertambangan di kawasan Gunung Kapur, Lempake, Samarinda Utara. Hasil inspeksi yang dilakukan jajaran DPRD Samarinda menyebut jika akvitas tambang itu dilakukan secara ilegal alias tak berizin. Sebaliknya, Satreskrim Polres Samarinda, di titik yang sama justru tidak mendeteksi adanya aktivitas ilegal.

Terpelas dari aspek legalitasnya, keberadaan tambang ini jelas merugikan masyarakat sekitar. Bukan cuma membuat banjir dan longsor yang menyerang permukiman. Tambang ini “sukses” merusak dua unit sekolah yang berada di sekitarnya. Setiap hujan mengguyur meski dengan intensitas sedang, permukiman di ruas Jalan Sukorejo serta Gunung Kapur selalu terendam banjir lumpur hingga longsor. Sedangkan dua fasilitas pyang yang menjadi korban adalah SD 013 dan SMP 013.

Dari hasil inspeksi yang dipimpin Ketua DPRD III DPRD Kota Samarinda juga terkuak jika aktivitas penambangan sudah berlangsung enam tahun. Selama itu pula tidak ada yang mampu menegur apalagi menyetop aktivitas ilegal itu. Irwansyah, Ketua RT 43 di mana lokasi tambang ilegal berada mengungkapkan jika pemilik lahan yang kini ditambang tersebut adalah milik warga Lempake sendiri. Selama penambangan terjadi, dirinya tidak pernah terlibat. Kecuali hanya menerima getahnya saja lantaran selalu diprotes warga. Salah satunya tuduhan jika dirinya ikut terlibat dalam aktivitas tersebut.

“Sepeser pun saya tidak pernah menerima fee dari penambangan. Saya tidak akan pernah mau menerima,” kata Irwansyah.
Menurutnya, lokasi lahan yang ditambang terdiri dari beberapa titik. Satu titik lahan bisa ditambang oleh bebeberapa penambang secara bergantian.

“Ada yang namanya BS kemudian BB. Terus berganti. Dan haulingnya ke arah Tanah Merah,” ujar Irwansyah. Akibat penambangan, dampak lingkungan menyebabkan seluruh warga RT 43 terendam banjir lumpur. Jika sudah begini warga harus kerja ekstra untuk membersihkan rumah dan lingkungan sekitar.

“Ada sekitar 40an rumah warga di RT 43 yang terdampak. Untuk RT 42 beberapa rumah saja,” terang Irwansyah. Salah seorang warga mengungkapkan, seyogyanya pemilik lahan bisa dipanggil dan dimintai keterangan berkaitan dengan penanggulangan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat tambang ilegal tersebut. “Harus ditindak cepat kalau tidak kejadian akan terus berulang,” pinta Ganda (38) warga sekitar.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 10 Oktober 2015 08:38

Membernya Ribuan, Gelar Resepsi di The Concept

<p>Dulu, olahraga lintas alam atau sering disebut hash atau on-on tak banyak yang mengetahui apalagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers