MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
UTAMA | SAMARINDA | METROPOLIS | OLAHRAGA | KALTIM | METROLIFE | BUJUR-BUJUR

UTAMA

Sabtu, 15 Juli 2017 10:45
Setelah Bos Komura "Dipulangkan", Mendung Hitam Masih Menyelimuti TKBM Komura

Pengurus Pecah, Anggota Jual Aset

BELUM DIBUKA. Garis polisi di Kantor Komura di Jalan Yos Sudarso, Samarinda, belum juga dilepas usai operasi tangkap tangan Maret lalu.

PROKAL.CO, Operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat petinggi TKBM Komura Maret lalu jadi petaka bagi 1.149 anggotanya. Bagaimana tidak, pendapatan hingga belasan juta rupiah setiap bulannya kini tinggal kenangan. Bahkan beberapa anggotanya sudah mulai menjual sejumlah aset untuk bertahan hidup.

Bagus Arya Susanto, Samarinda

PANDANGAN H Jamal kosong saat berdiri di depan kantor TKBM Komura tepat di sebelah Kantor KSOP Samarinda beberapa waktu lalu. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ia hanya mampu memandangi bangunan kuning di depannya yang masih diberi garis polisi.

Terik mentari siang itu membuat pria 60 tahun ini tak bertahan lama memandang bangunan yang dulu merupakan kantor kebanggaannya. Dia pun berjalan gontai melintasi lorong kecil menuju warung kopi sederhana di belakang pos jaga.

Perlahan, ia merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang sembari menghela napas. Di hadapannya, ada kopi yang sudah hampir dingin. Untuk menenangkan pikirannya, Jamal pun menyeruput kopi itu sembari berharap agar kasus megapungli yang kini ditangani Bareskrim itu segera tuntas.

Keinginannya tersebut bukan tanpa alasan. Saat berbincang ringan dengan awak media ini, dia mengaku pendapatannya sebagai buruh koperasi itu turun drastis selama kasus bergulir. Jika sebelumnya buruh yang tergabung dalam kelompok Nusantara atau yang bekerja di laut ini mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 17 juta per bulan banyaknya, kini ia hanya mendapatkan upah sekitar Rp 3 juta per bulan.

“Semenjak OTT, kita hanya diberi upah Rp 500 ribu per sekali muat. Sedangkan dalam satu bulan kita muat itu sekitar enam hingga tujuh kali saja,” ulasnya.  Kepedihan pun bertambah saat takbir Hari Raya Idulfitri berkumandang belum lama ini. Tunjangan Hari Raya yang dia rasakan selama belasan tahun sebagai buruh di koperasi tersebut pun tak lagi ia terima. Hanya berbekal upah minim, tahun ini Jamal dan keluarga harus merayakan hari kemenangan dengan cara yang sangat sederhana.

“Ya kalau dulu masih bisa membelikan cucu baju baru dan mungkin mainan, sekarang untuk kebutuhan rumah saja sudah kurang,” ulas pria tiga anak ini.  Membiasakan hidup sederhana tampaknya menjadi tantangan berat bagi para anggota TKBM Komura. Pendapatan yang berlimpah selama belasan tahun harus teramputasi akibat skandal internal di kalangan petinggi koperasi terbesar di Kota Tepian itu.

Alhasil, beberapa diantara mereka harus menjual sejumlah aset yang dikumpulkan selama masa kejayaan untuk bertahan hidup. Selain itu saat ini mereka berusaha mengatur pola keuangan yang harus disederhanakan secara bertahap.

Hal itu pun diakui Jamal. Bahkan selain sudah mulai menjual beberapa aset, dia mengaku ada beberapa kewajiban bulanan yang belum diselesaikan. Salah satunya pembayaran listrik yang hingga kini tertunggak.

“Hj Hamsiah (istrinya, Red) sudah jual gelang dan kalung untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dulu ada empang (Tambak, Red) masih ada penghasilan lain, sekarang hanya Komura yang kami harap,” paparnya dengan nada rendah.

Dia mengaku masih lebih beruntung jika dibandingkan beberapa anggota TKBM Komura yang lain. Karena menurutnya, ada beberapa aset anggota koperasi ini terancam ditarik dept collector hingga harus berurusan dengan pihak bank karena tak mampu membayar angsuran. “Ada juga teman mobilnya sudah mau ditarik karena sudah tiga bulan tidak bayar,” paparnya.

Mendung hitam pun masih menyelimuti TKBM Komura hingga saat ini. Walau demikian, bukan berarti mereka berpangku tangan. Sejumlah usaha untuk menyelamatkan nasib ribuan buruh pun terus dilakukan. Salah satunya inisiatif menghidupkan lagi koperasi yang beromzet ratusan miliar per tahun ini dengan cara membuat kepengurusan baru setelah rapat luar biasa digelar sejumlah anggita beberapa waktu lalu.

Namun sayangnya usaha menyelamatkan Komura ini terganjal konflik internal. Sebagian  anggota Komura masih berharap Jafar Abdul Gaffar yang kini terbelit kasus hukum, kembali menakhodai koperasi tersebut. Hal itu yang diungkapkan Hesruddin Gaffar yang ditunjuk sebagai Ketua TKBM Komura yang baru.

“Dalam kasus ini yang bersalah adalah oknum pengurus. Jadi sangat tidak adil jika anggota yang ikut merasakan dampaknya. Makanya kami sepakat, hukum silakan jalan sesuai prosedur, tapi koperasi jangan berhenti. Karena di sini ada nasib ribuan orang yang menunggu kepastian,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk membuat bahtera Komura keluar dari situasi karam dan kembali berlayar seperi sebagai mana mestinya. Konsulidasi dengan berbagai pihak pun dilakukan untuk menyelamatkan nasib koperasi ini.

Akibatnya, nasib Komura hingga kini tak jelas. Para buruh yang masih bekerja hanya mendapatkan uang panjar 30 persen, dari Perusahaan Bongkar Muat (PBM). Bahkan beberapa PBM, kata Hesruddin, bahkan berhubungan langsung dengan buruh, untuk urusan bongkar muat. Legalitas Komura membuat PBM tidak berani kembali menggunakan jasa Komura. "Kami berharap, mitra kerja seperti PBM ini justru membantu normalisasi Komura," ujarnya.

"Ya kami harap semua bersatu untuk menyelamatkan Komura.  Persoalan hukum ini kan hanya oknum pengurus saja. Jangan lantas mengorbankan nasib ribuan buruh lainnya," tandasnya. (*/beb)


BACA JUGA

Minggu, 19 November 2017 21:07

Lenyap di Jamban, Pengusaha Tewas di Mahakam

SAMARINDA. Kabar hilangnya Fahruddin membuat, kakak kandungnya bernama Serin cemas. Fahruddin dikabarkan…

Minggu, 19 November 2017 21:05

Aktivitas Masyarakat Lumpuh

SENDAWAR. Sudah dua hari terakhir sebagian warga di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mengalami bencana…

Sabtu, 18 November 2017 14:43

"Main Tanah", Lurah Jadi Tersangka

SAMARINDA. Kasus yang menimpa Lurah Gunung Lingai, Sungai Pinang, Saripudin La Bario (sebelumnya ditulis…

Jumat, 17 November 2017 13:56

Lengan Putus, Ayah Tewas

SAMARINDA. Begitu perih dan hancur perasaan Yontri. Pemuda 23 tahun itu menyaksikan ayahnya, Yabun (67)…

Jumat, 17 November 2017 13:52

Kekurangan Komputer Bukan Alasan Pungutan

SAMARINDA. Hampir semua sekolah setingkat SMP di Kota Tepian didera kekurangan perangkat komputer jelang…

Jumat, 17 November 2017 13:47

Triniti Cangkok Daging Di Tiongkok Cina

Empat hari lalu (13/11) genap satu tahun peristiwa bom di Gereja Oikumene di Jalan Cipto Mangunkusumo,…

Kamis, 16 November 2017 16:51

Bongkar Aib Playboy, Video Hot Tersebar

SAMARINDA. Luka akibat dikhianati sahabat jauh lebih menyakitkan daripada disakiti oleh musuh. Rasa…

Kamis, 16 November 2017 16:13

Pungutan Sukarela, tapi Nominal Ditentukan

Dugaan pungutan liar (Pungli) kembali menyeruak di lingkungan sekolah negeri. Isu itu berhembus di MTs…

Kamis, 16 November 2017 16:10

Tetap Semangat Meski Saraf Terancam Lumpuh

Di usia yang masih dini, Riska Devi harus menghadapi kenyataan pahit. Bocah usia 6 tahun asal Anggana,…

Rabu, 15 November 2017 15:35

Duar!!! Pasutri Terbakar

SAMARINDA. Arbani alias Bajau (45) langsung bergidik ketika kompor yang digunakannya memasak bumbu nasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .