MANAGED BY:
SABTU
23 SEPTEMBER
UTAMA | SAMARINDA | METROPOLIS | OLAHRAGA | KALTIM | METROLIFE | BUJUR-BUJUR

UTAMA

Sabtu, 15 Juli 2017 10:45
Setelah Bos Komura "Dipulangkan", Mendung Hitam Masih Menyelimuti TKBM Komura

Pengurus Pecah, Anggota Jual Aset

BELUM DIBUKA. Garis polisi di Kantor Komura di Jalan Yos Sudarso, Samarinda, belum juga dilepas usai operasi tangkap tangan Maret lalu.

PROKAL.CO, Operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat petinggi TKBM Komura Maret lalu jadi petaka bagi 1.149 anggotanya. Bagaimana tidak, pendapatan hingga belasan juta rupiah setiap bulannya kini tinggal kenangan. Bahkan beberapa anggotanya sudah mulai menjual sejumlah aset untuk bertahan hidup.

Bagus Arya Susanto, Samarinda

PANDANGAN H Jamal kosong saat berdiri di depan kantor TKBM Komura tepat di sebelah Kantor KSOP Samarinda beberapa waktu lalu. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ia hanya mampu memandangi bangunan kuning di depannya yang masih diberi garis polisi.

Terik mentari siang itu membuat pria 60 tahun ini tak bertahan lama memandang bangunan yang dulu merupakan kantor kebanggaannya. Dia pun berjalan gontai melintasi lorong kecil menuju warung kopi sederhana di belakang pos jaga.

Perlahan, ia merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang sembari menghela napas. Di hadapannya, ada kopi yang sudah hampir dingin. Untuk menenangkan pikirannya, Jamal pun menyeruput kopi itu sembari berharap agar kasus megapungli yang kini ditangani Bareskrim itu segera tuntas.

Keinginannya tersebut bukan tanpa alasan. Saat berbincang ringan dengan awak media ini, dia mengaku pendapatannya sebagai buruh koperasi itu turun drastis selama kasus bergulir. Jika sebelumnya buruh yang tergabung dalam kelompok Nusantara atau yang bekerja di laut ini mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 17 juta per bulan banyaknya, kini ia hanya mendapatkan upah sekitar Rp 3 juta per bulan.

“Semenjak OTT, kita hanya diberi upah Rp 500 ribu per sekali muat. Sedangkan dalam satu bulan kita muat itu sekitar enam hingga tujuh kali saja,” ulasnya.  Kepedihan pun bertambah saat takbir Hari Raya Idulfitri berkumandang belum lama ini. Tunjangan Hari Raya yang dia rasakan selama belasan tahun sebagai buruh di koperasi tersebut pun tak lagi ia terima. Hanya berbekal upah minim, tahun ini Jamal dan keluarga harus merayakan hari kemenangan dengan cara yang sangat sederhana.

“Ya kalau dulu masih bisa membelikan cucu baju baru dan mungkin mainan, sekarang untuk kebutuhan rumah saja sudah kurang,” ulas pria tiga anak ini.  Membiasakan hidup sederhana tampaknya menjadi tantangan berat bagi para anggota TKBM Komura. Pendapatan yang berlimpah selama belasan tahun harus teramputasi akibat skandal internal di kalangan petinggi koperasi terbesar di Kota Tepian itu.

Alhasil, beberapa diantara mereka harus menjual sejumlah aset yang dikumpulkan selama masa kejayaan untuk bertahan hidup. Selain itu saat ini mereka berusaha mengatur pola keuangan yang harus disederhanakan secara bertahap.

Hal itu pun diakui Jamal. Bahkan selain sudah mulai menjual beberapa aset, dia mengaku ada beberapa kewajiban bulanan yang belum diselesaikan. Salah satunya pembayaran listrik yang hingga kini tertunggak.

“Hj Hamsiah (istrinya, Red) sudah jual gelang dan kalung untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dulu ada empang (Tambak, Red) masih ada penghasilan lain, sekarang hanya Komura yang kami harap,” paparnya dengan nada rendah.

Dia mengaku masih lebih beruntung jika dibandingkan beberapa anggota TKBM Komura yang lain. Karena menurutnya, ada beberapa aset anggota koperasi ini terancam ditarik dept collector hingga harus berurusan dengan pihak bank karena tak mampu membayar angsuran. “Ada juga teman mobilnya sudah mau ditarik karena sudah tiga bulan tidak bayar,” paparnya.

Mendung hitam pun masih menyelimuti TKBM Komura hingga saat ini. Walau demikian, bukan berarti mereka berpangku tangan. Sejumlah usaha untuk menyelamatkan nasib ribuan buruh pun terus dilakukan. Salah satunya inisiatif menghidupkan lagi koperasi yang beromzet ratusan miliar per tahun ini dengan cara membuat kepengurusan baru setelah rapat luar biasa digelar sejumlah anggita beberapa waktu lalu.

Namun sayangnya usaha menyelamatkan Komura ini terganjal konflik internal. Sebagian  anggota Komura masih berharap Jafar Abdul Gaffar yang kini terbelit kasus hukum, kembali menakhodai koperasi tersebut. Hal itu yang diungkapkan Hesruddin Gaffar yang ditunjuk sebagai Ketua TKBM Komura yang baru.

“Dalam kasus ini yang bersalah adalah oknum pengurus. Jadi sangat tidak adil jika anggota yang ikut merasakan dampaknya. Makanya kami sepakat, hukum silakan jalan sesuai prosedur, tapi koperasi jangan berhenti. Karena di sini ada nasib ribuan orang yang menunggu kepastian,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk membuat bahtera Komura keluar dari situasi karam dan kembali berlayar seperi sebagai mana mestinya. Konsulidasi dengan berbagai pihak pun dilakukan untuk menyelamatkan nasib koperasi ini.

Akibatnya, nasib Komura hingga kini tak jelas. Para buruh yang masih bekerja hanya mendapatkan uang panjar 30 persen, dari Perusahaan Bongkar Muat (PBM). Bahkan beberapa PBM, kata Hesruddin, bahkan berhubungan langsung dengan buruh, untuk urusan bongkar muat. Legalitas Komura membuat PBM tidak berani kembali menggunakan jasa Komura. "Kami berharap, mitra kerja seperti PBM ini justru membantu normalisasi Komura," ujarnya.

"Ya kami harap semua bersatu untuk menyelamatkan Komura.  Persoalan hukum ini kan hanya oknum pengurus saja. Jangan lantas mengorbankan nasib ribuan buruh lainnya," tandasnya. (*/beb)


BACA JUGA

Kamis, 21 September 2017 18:10

KOK BISA..? Tambang Siluman Bebas Beroperasi

SAMARINDA.  Kekhawatiran Pemkot Samarinda soal penyalahgunaan izin pematangan lahan ternyata terbukti.…

Rabu, 20 September 2017 16:21

Anaknya Masih Hidup, Sejoli Ini Malah Panik

SAMARINDA. Unit Reskrim Polsekta Samarinda Utara menggelar rekonstruksi kasus aborsi di Mapolsekta Samainda…

Rabu, 20 September 2017 16:20

Jambret Pasutri, Mahasiswa Ini Ditembak

BONTANG. Oknum mahasiswa berinisial MAW (23) terpaksa ditembak aparat kepolisian. Warga Jalan Selat…

Selasa, 19 September 2017 01:54
Teror Buaya Muara Jawa

Jenazah Pawang Buaya “Dikembalikan” Utuh

TENGGARONG. Jenazah Supriyanto (38), warga RT 18 Kelurahan Muara Jawa Ulu, Kecamatan Muara Jawa, Kutai…

Selasa, 19 September 2017 01:53

Teror Buaya Muara Jawa, Disebut Buaya Siluman

JASAD Supriyanto akhirnya ditemukan masih dalam kondisi utuh. Sama halnya dengan jasad Arjuna (16),…

Selasa, 19 September 2017 01:53

Bila Membahayakan, Buaya Boleh Dibunuh

SERANGAN buaya yang menewaskan dua warga di Kecamatan Muara Jawa mendapat perhatian Badan Konservasi…

Selasa, 19 September 2017 01:53
Stroke Kambuh, Dirawat di ICU

Wakil Gubernur Kaltim Itu Masih Berjuang

SAMARINDA. Rumor terkait berpulangnya Wakil Gubernur Kaltim, Mukmin Faisyal dibantah sejumlah pihak.…

Selasa, 19 September 2017 01:52

Wali Kota Bersaksi untuk Abun, Ini yang Diakuinya...

Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang didudukkan di ruang persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda,…

Senin, 18 September 2017 00:44
Teror Buaya Muara Jawa

Disebut Ulah Pencari Tumbal?

SAMARINDA. Pemandangan tak wajar tampak pada jasad Arjuna (16) yang disambar buaya di Sungai TB, terletak…

Senin, 18 September 2017 00:43

YAELA..!! Ganteng-ganteng Jadi Maling

SAMARINDA. Menyandang status sebagai calon sarjana tak ada artinya lagi bagi KM, salah seorang mahasiswa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .