MANAGED BY:
MINGGU
16 JUNI
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Selasa, 11 Juni 2019 16:09
Fungsi Benanga Hilang 70 Persen, Semakin Kritis Dikepung Pembukaan Lahan dan Tambang
KRITIS. Sekkot Sugeng Chairuddin memantau Bendungan Benangan, Minggu (9/6) lalu. Banjir yang terjadi di samarinda utara sebagian besar karena fungsi bendungan ini yang mulai menurun.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Bendungan Benanga atau sebutan lain Waduk Lempake tak lagi memberi peran signifikan dalam pengendalian banjir di Samarinda. Banjir yang melanda kawasan Samarinda Utara di beberapa titik memberi bukti itu. 

Sejatinya, bendungan ini jadi penampung air hujan lalu membuangnya secara perlahan ke Sungai Karang Mumus (SKM). Tapi kini, kapasitas daya tampung menurun drastic. Dari 1,4 juta liter kubik menjadi 500 ribu liter kubik saja.

Hal ini memicu air hujan tak bisa ditampung maksimal. Alhasil langsung terjun bebas ke permukiman. Penurunan daya tampung, sebagai imbas keberadaan sedimen yang bertahun-tahun tidak dikeruk. Usianya bendungan ini sudah 42 tahun. Dibangun sejak 1977. Namun keberadaan bendungan kini hampir 70 persen fungsinya hilang. Diperkirakan, sejak dibangun hingga kini, jumlah lumpur sudah mencapai 1,6 juta meter kubik.

Sedimentasi ini disebabkan bukaan lahan yang masif di kawasan sekitar. Ada pertambangan batu bara, perumahanan hingga bukaan lainnya. Lagi-lagi pemkot yang menjadi pemberi dari izin-izin tersebut.

Hasil penelitian dan analisis Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman dalam jurnal Rediksi Laju Erosi Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) di kawasan Waduk Lempake 2017 disebutan bahwa nilai erosi yang terjadi di waduk ini 6.496,62 ton/ha/tahun.

Daerah waduk memiliki tingkat bahaya erosi yang beragam dari sangat ringan hingga sangat berat. Adapun persentase sangat ringan 49,7 persen, ringan 45,46 persen, sedang 4,55 bisa persen, berat 0,18 persen dan sangat berat 0,08 persen dari keseluruhan luas daerah Benanga Lempake Samarinda yang diteliti.

Besarnya erosi yang terjadi dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga air yang masuk akibat air hujan dan air limpasan dari sub DAS Karang Mumus tidak mampu dibendung oleh bendungan sehingga air meluap dan menyebabkan banjir.

Adapun faktor lain seperti erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng serta faktor pola penutupan lahan dan vegetasi yang ada di daerah tersebut. Dari hasil analisis data curah hujan, diperoleh nilai erosivitas hujan tahunannya sebesar 2.001,437 mm untuk periode 10 tahun (2006-2015).

Dari segi kuantitas, curah hujan nilai tersebut sangat besar dan memiliki potensi erosi yang tinggi. Kepekaan tanah di daerah waduk juga memiliki potensi erosi yang tinggi ditandai dengan nilai K (0,28 – 0,45) yang masuk dalam klasifikasi kelas sedang dan tinggi pada kelas erodibilitas tanah.

Sedang kondisi lereng di Benanga, memiliki 3 kelas lereng antara lain datar, landai dan agak curam. Kondisi lereng didominasi oleh kawasan datar yang memiliki luas 93,97 persen dari luasan waduk.

Sementara penutupan lahan di daerah Benanga memiliki 5 pola, yakni belukar 50,05 persen, pemukiman desa 1,94 persen, pertambangan 0,18 persen, semak 32,51persen dan tubuh air 15,31 persen dari keseluruhan luas daerah bendungan.

Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, selaku pengelola aset Benanga, mengaku kesulitan jika bukaan lahan tersebut terus dibiarkan.
Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan, Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, Arman Effendi mengatakan sulit dipungkiri banjir yang melanda kawasan Samarinda Utara tak lepas dari sebagian fungsi bendungan yang hilang akibat sedimentasi.

Saat ini, Elevasi Tinggi Muka Air (TMA) bendungan berada pada posisi 7.88 atau status siaga. Sedang status air di Sungai Karang Mumus terjadi pasang dan TMA di Sungai Pampang atau di hulu berada pada posisi 330 cm atau tinggi sehingga turut memberi kontribusi besar menggenangi berbagai titik di Samarinda Utara.

"Tapi air di waduk bergerak terus. Posisinya turun naik," tambahnya. Pada prinsipnya sirkulasi air di waduk Benanga dalam posisi normal. Hanya, levelnya agak tinggi," kata dia kepada Sapos.

Penanganan banjir di Samarinda kata Arman memang kompleks. Butuh kerja sama yang baik dari pemkot, BWS dan Provinsi Kaltim dalam mengendalikan banjir. Sebab banyak faktor yang berpengaruh dalam pengendalian banjir. Mulai dari sedimentasi Benanga, di SKM, lalu ada infrastruktur jalan atau jembatan yang menghalangi jalur air, pemukiman warga, hingga penyebab lain seperti curah hujan yang tinggi.
Banyak titik yang terjadi hambatan yang terjadi di sepanjang waduk hingga ke SKM dan drainse perkotaan.

"Idealnya air itu mengalir ketika tidak ada hambatan. Tapi kenyataannya banyak hambatan yang terjadi, makanya meluap," kata dia.
Bagi dia, masalah yang paling penting adalah terletak pada SKM dan drainase perkotaan. Selama ini alur itu yang tidak singkron. "Jadi sama saja ketika kita keruk waduk, tapi buangan ke SKM dan sistem drainase tidak jalan," terangnya.

Untuk itu dirinya mengingatkan agar kawasan waduk dan SKM mesti dijaga. Apalagi daerah pelindung atau penyangga. Saat ini pihaknya sedang mengupayakan mengeruk sedimentasi tapi butuh waktu dan biaya yang sangat besar.  Dari studi yang mereka lakukan sejak 2016, dibutuhkan sekitar Rp 80 miliar untuk mengeruk seluruh sedimentasi agar fungsi bendungan kembali normal. Dana itu, bisa bersumber dari APBN dan hibah.

"Tahun depan, infonya ada Rp 25-26 miliar dari APBN dan hibah. Kita lihat, mana yang bergerak duluan," kata Arman. Dengan perkiraan dana segitu, setidaknya, bisa meningkatkan daya tampung yang kini tersisa 30 persen saja.

Antisipasi lain, BWS telah mendorong agar ada pembuatan perda terkait sempadan sungai. Tahun ini mau di ajukan draft ke pemkot untuk di perdakan.  Bagi Arman, masa depan waduk harus dipandang sebagai penyedia air baku irigasi, air bersih, konservasi sungai dan pengendali banjir turun. "Jadi, idealnya kawasan waduk pun harus steril pemukiman," pungkasnya. (zak/nha)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 16 Juni 2019 13:20

Dikarungi, Dibuang ke Sungai, Jenazah Julak Gigi “Menghilang”

SAMARINDA. Jenazah Ardiansyah alias Julak Gigi (60) hingga Sabtu (15/6)…

Minggu, 16 Juni 2019 13:19
BMKG Beri Peringatan Dini

Mulai Surut, Hujan Deras Masih Menghantui

SAMARINDA. Hujan deras masih akan mengguyur Samarinda dan sekitarnya. Kendati…

Sabtu, 15 Juni 2019 17:11

Mayat Dikarungi, Dibuang ke Sungai

  TENGGARONG. Gara-gara ketagihan berjudi, membuat Ikhsan Fatkhulloh alias Ikhsan…

Sabtu, 15 Juni 2019 17:05

Rumah Korban Banjir Terbakar

SAMARINDA. Kisah memilukan dialami warga Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bandara,…

Sabtu, 15 Juni 2019 16:59

Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Meski banjir mulai surut, namun hingga Jumat (14/6) kemarin, Pemkot…

Jumat, 14 Juni 2019 16:19

Balita Korban Banjir Alami Jantung Bocor

Nyaris sepekan banjir merendam beberapa wilayah Samarinda. Penyisiran yang dilakukan…

Jumat, 14 Juni 2019 14:21

TABRAKAN MENGERIKAN..!! Avanza Masuk Kolong Truk, Sopir Terjepit

SANGATTA. Kecelakaan mengerikan terjadi di jalan poros Bontang-Sangatta. Tepatnya di…

Jumat, 14 Juni 2019 14:19

Getaran Berujung Penangkapan

SAMARINDA. Tomy Syahmani baru saja menghirup udara bebas dua bulan…

Kamis, 13 Juni 2019 17:04

Tubuh Istri Purnawirawan Membusuk

 SAMARINDA. Di tengah perhatian warga Kota Tepian tertuju pada musibah…

Kamis, 13 Juni 2019 16:57

Maling Beraksi di Lokasi Banjir

SAMARINDA. Dampak dari banjir di Samarinda sejak sepekan terakhir mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*