MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Kamis, 18 April 2019 13:45
OTT Rp 33,4 Juta Dekat TPS

Ketua KPPS di Sempaja Jual Form C6, Oknum Timses Caleg Gagal Hambur Uang

HASIL OTT. Ketua Bawaslu Samarinda Abdul Muin memperlihatkan uang tunai dan puluhan amplop hasil OTT.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Empat petugas Linmas ditambah beberapa warga lain sedang berjaga di TPS 10 dan TPS 9. Kedua TPS berdampingan itu berada di Jalan Pramuka III, RT 6, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara.
Mereka menjaga kedua TPS ini sepanjang malam, sambil menunggu pertandingan Piala Champions antara Barcelona vs MU, dini hari kemarin (17/4).
Sekitar pukul 03.45 Wita dini hari, dua pemuda menggunakan motor Yamaha Jupiter MX merah melintas masuk Gang Pramuka IIIA.
Keduanya tampak bolak-balik keluar masuk gang. Linmas dan warga yang berjaga di TPS itu pun curiga. Mereka disangka maling.
Petugas langsung membuntuti kedua pemuda bermotor itu. Sempat distop. Namun keduanya mengaku anak kos di kompeks sekitar.
Setelah itu, anggota Linmas sempat kehilangan jejak terhadap kedua pemuda tersebut. Para Linmas kembali ke pos jaga. Tak lama berselang, terlihat sepintas ada orang nyelinap lewat belakang rumah warga. Pemuda itu membawa tas ransel hitam sambil ngendap-ngendap di celah kecil himpitan antar tembok rumah warga.
Satu temannya menunggu di motor yang terparkir di depan musala di sekitar lokasi itu. Petugas kembali mengejar. Kedua pemuda ini tertangkap. Keduanya berinsial HR dan AT. Keduanya ditangkap tepat di depan Kampus Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM), Jalan M Yamin. Lokasi penangkapan tak jauh dari rumah Ketua RT 6, Nurdiansyah.
"Teman-teman saya sebagian ada yang sudah teriak maling. Bahkan sempat dipukul," kata seorang saksi menceritakan kronologis penangkapan.
Ia enggan membuka identitasnya dengan alasan keamanan. HR dan AT langsung digiring ke rumah ketua RT setempat. Namun dari penulusuran Sapos, HR merupakan timses salah satu caleg. Sedangkan AT berstatus mahasiswa. Saat diperiksa isi tasnya, ditemukan sejumlah barang bukti. Diantaranya surat undangan (form) C6 sebanyak 40 lembar.
Formulir C6 yang didapatkan oleh petugas untuk digunakan memilih di TPS 9. Di TPS itu terdata 297 DPT.
Terdapat beberapa jenis amplop putih. Yang kecil dan dan yang besar. Amplop kecil berisi uang Rp 100 ribu per amplop. Yang besar berisi Rp 200 ribu. Ada juga uang tunai yang tidak dimasukkan ke amplop. Nilainya Rp 28,6 juta. Sehingga total uang yang diamankan senilai Rp 33,4 juta.
Bukti lain adalah selembar surat pernyataan dukungan untuk salah satu caleg DPRD Kaltim Dapil Samarinda berinisial SS dan salah satu Caleg DPRD Samarinda berinisial MD. Keduanya berasal dari Partai NasDem.
Petugas sempat menginterogasi. HR dan AT ternyata baru keluar dari rumah yang sama (ketua RT), sebelum ditangkap warga. Keduanya mengaku warga Sempaja.
Warga langsung menghubungi polisi yang bertugas menjaga TPS itu. 45 menit kemudian tim dari Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) datang ke lokasi.

Salah satu petinggi Partai NasDem Samarinda yang dihubungi media ini juga tak mengetahui jelas duduk masalah. Namun sejak dua hari terakhir ini di internal Nasdem sedang dilakukan pembayaran terhadap saksi partai. Ada kurang lebih Rp 2 miliar lebih dana disiapkan untuk bayar saksi.
"Saya belum bisa berikan jawab pasti. Karena belum tahu persis . Kalau kaitan dengan dana saksi. Dlm waktu dua hari ini seluruh pengurus DPC dan saksi sudah diberikan uang. Untuk diberikan kepada masing masing saksi," kata petinggi partai NasDem Kota Samarinda itu.
“SAYA BERSALAH, SAYA SIAP DIHUKUM”
Temuan petugas Gakkumdu ada 40 lembar form C6 menjadi tanda tanya besar. Pasalnya form tersebut hanya dimiliki oleh petugas penyelenggaran dalam hal ini KPPS. Tidak sembarang orang mendapat form ini.
Penelusuran Sapos menemukan ada indikasi jual beli form C6 oleh Ketua KPPS TPS 9. Diketahui, Ketua KPPS TPS 9 adalah Ernawati. Wanita berusia 46 tahun ini adalah istri dari Ketua RT 6, Nurdiansyah.
Wajah murung diperlihatkan Ernawati saat awak media memantau TPS 9 sekitar pukul 13.00 Wita. Pencoblosan telah ditutup. Seluruh petugas TPS istirahat makan siang. Hingga dibuka kembali pukul 14.00 Wita untuk penghitungan suara.
Matanya terlihat sayup-sayup memerah. Awalnya tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Ia duduk terdiam di meja petugas TPS, sambil menatap nasi kotak di atas meja.
"Saya syok. Saya tidak fokus kerja. Saya tidak bisa bayangkan sampai kejadian ini. Sedih sekali. Bapak (Suaminya) menangis. Saya masih tahan karena tugas ini," ungkapnya dengan suara kecil.
Ernawati mengaku bersalah atas kejadian ini. Ia terlena dengan iming-iming uang Rp 4 juta. Perlahan wanita berhijab ini membuka duduk masalah.
Sejak kemarin ia menerima telepon dari nomor asing. Suara dari telepon tersebut meminta agar ia memberi form C6 kepada dua pemuda yang datang ke rumahnya pukul 03.00 Wita dini hari.
Dari balik telepon itu, Ernawati dijanjikan satu form C6 dihargai dengan Rp 100 ribu. Ernawati setuju dengan perjanjian setelah pencoblosan baru uang itu diberikan. Total Rp 4 juta dari 40 form C6.
"Kenapa saya mau dengan iming-iming itu. Kenapa saya begini. Saya mengaku bersalah. Saya siap tanggung jawab," tuturnya.
Setiap hari Ernawati bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah kos-kosan di kompleks pramuka. Setiap bulan dia digaji Rp 300 ribu bahkan lebih ataupun kurang.
"Saya setiap hari bersihkan sampah tiap subuh. Kenapa saya di iming-iming saya mau. Kenapa saya mau," ucapnya perlahan. Mata memerah nyaris menangis, menyesali perbuatannya.
Dari 40 form C6 yang diberikan Ernawati adalah undangan bagi warga yang tak lagi berada di RT 6. Ada yang sudah pindah dan ada juga yang sudah meninggal. Selebihnya ia tak mengetahui persis form tersebut entah dibagikan kemana oleh kedua pemuda itu.
Ernawati mengaku tak mengenal SS. Namun dirinya pernah diminta oleh partai bersangkutan merekrut saksi.
"Saya capek. Saya enggak bisa berpikir jernih. Saya syok. Mau undurkan diri. Saya banyak melamun. Gak fokus. Saya akan cerita apa adanya ketika di panggil Bawaslu. Kalau ada sanksi hukuman di kurung pun saya pasrah. Saya jalani. Kalau memang saya bersalah. Sedih aja. Saya tanggung jawab. Terima apapun. Saya tidak tahu apa-apa," kata dia.
Ia tak ingin kasus ini merembet ke orang lain. Ia menerima kesalahan atas perbuatan yang ia lakukan.
Terpisa, Nurdiansyah juga mengaku heran kenapa 40 lembar form C6 bisa berada di tangan HR dan AT.
"Istri saya (Ernawati, Red) yang jadi ketua KPPS-nya. Saya tidak tahu kenapa bisa sampai ada di tangan kedua orang itu. Saya hanya mengetahui jumlah DPT di lingkungan RT saya. Itu saja," kata Nurdiansyah.
Ditanya mengenai apakah mengenal HR dan AT. Nurdiansyah menegaskan kedua pria yang diamankan itu bukanlah warganya.
"Itu orang dari luar. Bukan warga saya," tegasnya.
Sementara itu Kepala Satgas Gakkumdu Polresta Samarinda, Kompol Sudarsono yang juga merupakan Kasat Reskrim Polresta Samarinda hanya membenarkan adanya dugaan money politik yang sedang ditangani Bawaslu Kota Samarinda.
"Memang benar ada kejadian itu dan masih ditangani Bawaslu. Belum dilimpahkan kepada kami," katanya.
KLAIM DANA SAKSI
Nama SS diseret dalam kasus dugaan serangan fajar ini. Ia disebut-sebut sebagai dalang di balik kasus ini. Itu dibuktikan dengan temuan petugas adanya surat pernyataan dukungan kepadanya. Surat tersebut sudah terisi beberapa nama warga, NIK dan nomor telepon.
Namun, saat dikonfirmasi, SS membantah. SS mengaku tak mengetahui kejadian itu. Namun dirinya menyebut temuan uang itu sebagai uang untuk pembayaran saksi-saksi partai.
"Saya enggak ngerti. Tanyakan ketua parta kaitannya dana saksi atau apakah itu. Itu dana saksi," katanya.
Lalu mengapa dibagikan dini hari disertakan form C6, SS mengaku tak mengetahui hal itu.
"Saya tidak tahu. Saya enggak ngerti. Enggak tau apa-apa," ungkapnya. (zak/oke/nha)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 16:53

PPK Tantang Ketua Panwaslu

<p>SAMARINDA. Status Ketua Rukun Tetangga (RT) menjelang perhelatan politik akhir tahun nanti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*