MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA

METROPOLIS

Sabtu, 05 Januari 2019 15:45
JADI CATATAN BUAT DINKES..!! Tahun 2018 Lalu, Ada 593 Kasus DBD

Tertinggi di Ulu, Dinkes Imbau Pasang Spanduk

TETAP WASPADA. Sejumlah pasien anak dirawat di RSUD AW Sjahranie, Samarinda.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Merebaknya wabah demam berdarah dengue (DBD) membuat Dinas Kesehatan Kota Samarinda mengeluarkan imbauan. Sebuah surat bernomor 441/267/100.2  per tanggal 3 Janurai 2019 ditujukan kepada seluruh puskesmas di Kota Tepian. Meski tidak masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB), diharapkan dengan imbauan ini warga bisa lebih waspada pada virus yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti itu.

Dinas Kesehatan mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2018, tak kurang 593 kasus DBD tersebar di 10 kelurahan se Kota Samarinda. Dari angka itu, Kelurahan Air Putih di Kecamatan Samarinda Ulu menempati peringkat pertama dengan 94 kasus DBD.

"Jumlah itu kami rangkum dari laporan puskesmas dan rumah sakit yang ada di kota ini. Dan hingga Desember ini masih terdapat puluhan orang di rawat di rumah sakit akibat DBD," kata Kepada Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Rustam, Jumat (4/1).

Dirangkum dari data Dinas Kesehatan, setidaknya ada 3 Kecamatan menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan. Kecamatan Samarinda Ulu menjadi ranking pertama dengan jumlah penderita DBD terbanyak sepanjang tahun 2018. Meliputi Kelurahan Air Putih dengan 95 kasus, Kelurahan Air Hitam 48 kasus, Kelurahan Jawa 48 kasus, Kelurahan Sidodadi 45 kasus, Kelurahan Gunung Kelua 37 kasus. Jumlah di kecamatan ini mencapai 273 kasus DBD.

Kemudian, Kecamatan Samarinda Utara meliputi Kelurahan Sempaja Selatan 75 kasus, Kelurahan Sempaja Utara 71 kasus, Kelurahan Lempake 60 kasus. Total di kecamatan ini mencapai 206 kasus DBD.

Kecamatan Sungai Pinang menyusul dengan 71 kasus DBD yang ada di Kelurahan Sungai Pinang Dalam.
"Dari 593 kasus DBD yang ada beberapa kasus yang dilakukan tindakan lanjutan dengan penyemprotan bibit nyamuk DBD atau foging nantinya oleh pihak puskesmas yang ada di kecamatan dan kelurahan masing-masing," kata Rustam.

Dari sekian ratus penderita DBD, masih terdapat 3 korban meninggal dunia, yakni di Kecamatan Palaran sebanyak 2 orang dan di Kecamatan Samarinda Utara sebanyak 1 orang.

Menurut Rustam, meningkatnya kasus DBD di Kota Samarinda disebabkan pula faktor cuaca. Dampak musim hujan mendorong meningkatnya tempat perindukan nyamuk aedes aegypti sebagai vector penyakit DBD.

“Peningkatan jumlah vector ini berpotensi meningkatkan penularan, sehingga dapat menimbulkan kejadian luar biasa hingga wabah,” ucap Rustam.

Untuk mencegah potensi itulah, pihaknya mengimbau kepada seluruh puskesmas yang ada di Samarinda untuk membuat dan memasang spanduk DBD baik di kantor kelurahan dan lokasi strategis lainnya, dengan tujuan mengedukasi warga agar melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus PSN untuk mengegah DBD.

Di samping itu, Rustam mengimbau kepada warga untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan terutama di dalam rumah sendiri. Sebab masalah ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, namun seluruh komponen masyarakat harus mengambil peran sesuai fungsinya sehingga penyebaran penyakit DBD dapat ditekan sekecil mungkin.

"Nyamuk DBD cepat berkembang biak di air yang bersih, untuk itu saya berharap masyarakat peduli dengan cara minimal menguras bak mandi dan penampungan air minum setiap satu minggu sekali," tuturnya.

Terpisah, Humas RSUD AW Sjahranie, dr Arysia Andhina mengatakan, sepanjang bulan Desember 2018, terdapat 21 pasien anak-anak yang dirawat di ruang melati. Dua diantaranya di rawat di ruang PICU lantaran mengalami dengue syok syndrome (DSS). Dan 2 pasien dewasa masih dirawat diruang Anggrek dan Flamboyan.

“Dari semua pasien yang masih dirawat merupakan pasien di bulan Desember. Dan di bulan Januari terdapat 1 pasien anak yang baru masuk,” kata Sisi, sapaan akrabnya. Semua pasien yang dirawat dalam kondisi lemah saat pertama kali diterima rumah sakit. Namun demikian setelah dilakukan perawatan kondisi rata-rata pasien mulai membaik. Hanya dua pasien anak yang berada di ruang PICU yang mendapat perhatian kusus.

“Dalam kondisi ini, 2 pasien anak di ruang PICU memang harus cepat ditangani dan mendapat perawatan khusus. Sebab kemungkinan besar meninggal dunia lebih besar,” tutup Sisi. (kis/beb)


loading...

BACA JUGA

Sabtu, 10 Oktober 2015 08:38

Membernya Ribuan, Gelar Resepsi di The Concept

<p>Dulu, olahraga lintas alam atau sering disebut hash atau on-on tak banyak yang mengetahui apalagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*