MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Rabu, 28 November 2018 14:11
Kantor Aktivis Diserang

Tidak Temukan Anggota Jatam, Rumah Warga Digeledah

DITEROR. Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang (dua kanan) saat menggelar konferensi pers, Selasa (27/11) kemarin. Sekretariat Jatam di Perum Kayu Manis, Sempaja.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Aktivis lingkungan dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim kembali mengalami intimidasi dan kekerasan dari orang tidak dikenal. Sekitar 30 orang tak dikenal mendobrak pintu Sekretariat Jatam di Jalan Wahid Hasyim II, Perum Kayu Manis Blok C6, Kelurahan Sempaja Samarinda Utara. Aksi itu terjadi 5 November 2018 silam, pukul 20.00 Wita. 

Saat itu, sekretariat dalam keadaan kosong. Kelompok massa tak dikenal itu menggeledah. Mereka masuk lewat pintu belakang. Lalu mendobrak pintu. Jendela kamar di belakang kantor juga dirusak.
Karena tidak menemukan satupun aktivis Jatam, pencarian mereka dilanjutkan dengan menggeledah rumah tetangga. Tidak puas sampai di situ. Puluhan orang tak dikenal ini mengempesi ban motor milik salah satu staf Jatam Kaltim.
"Informasi yang kami terima dari para tetangga, pasca penyerangan tersebut sekretariat kami kerap kali diawasi dan diintai oleh orang-orang tak dikenal. Diawasi siang dan malam," kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang saat menggelar konfrensi pers, Selasa (27/11) kemarin.
Dugaan kuat, kata Rupang, mereka mencari aktivis Jatam. Sebelum pengrusakan dilakukan, ada rentetan peristiwa intimidasi verbal secara beruntun. Ada pihak tertentu menghubungi melalui telepon seluler sesaat setelah Jatam merilis penegakan hukum terhadap beberapa anak yang meninggal di lubang tambang.
Menurut Rupang, kejadian ini terjadi berulang kali. Ini menandakan ada pihak-pihak yang tidak suka. Terganggu dengan kampanye serta advokasi yang selama ini diusung Jatam Kaltim. Padahal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini hanya aktif mendorong pemerintah agar dilakukannya penegakan hukum atas sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan tambang. Dengan menindak sejumlah tambang-tambang ilegal.
“Kita belum tahu apa motif di balik penyerangan dan pengrusakan ini. Namun kami meyakini berkaitan dengan sejumlah laporan serta advokasi dan kampanye yang kami lakukan. Baik kasus tewasnya 32 anak di lubang tambang, aktivitas tambang ilegal, pencemaran lingkungan, perampasan lahan dan sebagainya," jelas Rupang.
Jatam Kaltim secara resmi telah melaporkan kejadian ini kepada pihak Polres Samarinda. Laporan dengan menyertakan sejumlah bukti yang berkaitan dengan peristiwa ini. Jatam Kaltim mensinyalir orang tak dikenal ini sedang mencari dan menarget para aktivis-aktivis lingkungan, khususnya aktivis Jatam.
“Tadinya kami berfikir situasi dan ancaman akan berakhir. Namun ternyata tidak. Masih terus berlanjut. Itulah sebabnya akhirnya kami melaporkan hal ini kepada pihak berwajib," ucap Rupang.
Pihaknya mendesak agar kepolisian Samarinda mengusut kasus ini. Dengan memroses secara hukum pelaku penyerangan dan pengrusakan.
Aparat penegak hukum harus memberikan perlindungan terhadap pejuang lingkungan dari ancaman dan intimidasi dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.
"Harus ada jaminan keselamatan terhadap rakyat yang memperjuangkan lingkungannya dari acaman pihak manapun," seru Rupang.
Selain itu, ia juga mendesak Polda Kaltim untuk terus memroses kasus-kasus lubang tambang yang diterlantarkan. Apalagi saat ini korban tambang telah menelan 32 korban jiwa serta memproses sejumlah pelanggaran dan kerusakan lingkungan akibat aktifitas pertambangan.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Wahli) Kaltim, Fathur Roziqin Fen menambahkan, praktik kekerasan dan intimidasi terhadap para aktivis lingkungan bukan hal baru. Namun hal ini nyaris tanpa penindakan tegas dari aparat penegak hukum.
Jika situasi ini dibiarkan, maka ada kesan penegak hukum terlibat secara tidak langsung. Bahkan di banyak kejadian, hal-hal demikian banyak dibiarkan.
"Makanya kami minta penegak hukum tegas atas kejadian ini. Polisi harus memberi rasa keamanan bagi setiap warganya," kata dia.
Kejahatan para mafia tambang hingga menewaskan 32 korban jiwa pun, kata dia, publik nyaris tak melihat ada pengusutan kasus ini secara serius. Belum lagi kerusakan ekologis lainnya, tambang ilegal, pengrusakan hutan oleh koorporasi besar.
"Kami menolak kekerasan dengan alasan apapun," katanya.
Terpisah, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto menuturkan belum menerima laporan dari anak buahnya.
"Belum ada laporan ke saya. Tapi saya akan cek dulu," pungkas Vendra. (zak/oke)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 16:53

PPK Tantang Ketua Panwaslu

<p>SAMARINDA. Status Ketua Rukun Tetangga (RT) menjelang perhelatan politik akhir tahun nanti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*