MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Rabu, 21 November 2018 23:50
Bandara APT Pranoto, Emosi Jiwaku

Oleh: Abdurrahman Amin

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Samarinda Pos (IG:@arrahmanamin)

PROKAL.CO, Menjadi saksi sejarah.
Penerbangan perdana.
Samarinda-Jakarta.

TIGA kalimat itu caption saya di akun facebook (FB). Mempertegas foto tiket yang saya share di akun medsos. Saya pengguna medsos yang pasif. Saya juga punya akun instagram (IG). Hanya untuk memantau. Jarang memposting hal yang baru. Kecuali benar-benar penting. Bahkan perjalanan ke Singapura sepekan lalu saya lewatkan begitu saja. Tanpa “pemberitaan” di medsos. Padahal itu pengalaman perdana saya ke luar negeri.

Tapi Selasa (20/11) kemarin, saya tidak kuasa untuk tidak “genit” di medsos. Dan saya pun mempostingnya. Tiket penerbangan Samarinda-Jakarta. Itu bahan postingan saya. Tak peduli apakah postingan itu dianggap bualan. Itu bukan sekadar postingan. Bukan sekadar pemberitahuan. Bukan pula karena sudah “memerawani” penerbangan komersial perdana dari Samarinda ke Jakarta. Tapi di sana ada emosi. Di sana juga ada sensasi.

10 tahun yang lalu saya datang ke lokasi proyek pembangunan bandara ini. Mendapat penugasan dari redaktur halaman kota di koran tempat saya bekerja. Lokasinya di Sungai Siring, Samarinda Utara. Perlu waktu 60 menit dari kediaman saya di Samarinda Seberang.
Dengan menggunakan sepeda motor. Waktu itu hujan menerjang. Sampai di lokasi proyek, badan basah kuyup. Perlu negosiasi yang panjang agar bisa diizinkan masuk lokasi proyek. Padahal sekadar mengambil gambar. Tak ada wawancara. Saat itu memang tidak ada aktivitas proyek. Meski material dan alat berat bertebaran.

Perjalanan panjang mengiringi proses pembangunan bandara ini. Pasang-surut. Jalan terjal. Saling intrik. Banyak yang dikorbankan. Tak sekadar menguras APBD (Samarinda dan Kaltim). Di sana ada keringat. Ada air mata. Bahkan ada darah. Agak lebay memang. Tapi begitulah faktanya. Karena memang banyak masalah mendera proyek bandara ini.

Bisa dibilang proyek terlama pembangunannya. Konon digagas sejak 1994. Lebih lama dari Proyek Jembatan Mahkota II. Yang digagas sejak 2003. Namun baru mulai digunakan akhir 2017 lalu.

Dicanangkan sejak era Gubernur HM Ardans. Dikebut di era Awang Faroek. Lalu diresmikan di periode Isran Noor. Sempat terjadi perdebatan saat di era gubernur Suwarna AF. Karena megaproyek ini justru dikerjakan Pemkot Samarinda. Karenanya, peran wali kota Samarinda 2000-2010 Achmad Amins tak bisa dihilangkan begitu saja. Bahkan dia lebih berperan dari Isran Noor yang datang tinggal meresmikan saja.

Di awal kepemimpinannya, 2009 silam, Awang Faroek langsung ingin mengambilalih proyek ini dari Pemkot Samarinda. Tapi tak semudah itu peralihan dilakukan. Harus melalui proses audit. Bukan audit forensik akuntansi yang cukup dilakukan di atas meja. Tapi audit proyek. Harus dilakukan di lapangan. Memeriksa setiap senti bangunan. Bukan perkara gampang. Hasil audit menentukan berapa uang yang harus dibayar ke perusahaan yang membangun.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Kaltim pun diturunkan. Hasilnya mengejutkan. Bukan karena selisih persentase progres proyek dengan anggaran yang sudah tersedot.

Tapi justru status perusahaan yang mengerjakan proyek ini tidak jelas. PT Nuansa Cipta Realtindo (NCR) berstatus sebagai investor. Tapi malah menikmati APBD dalam menjalankan proyek. Lantas beralih berstatus sebagai kontraktor.

Tapi ujung-ujungnya PT NCR malah menggugat Pemkot Samarinda. Karena hak yang mereka dapat tak sesuai dengan yang sudah dikerjakan di lapangan. Belakangan pemkot harus membayar denda sesuai yang diputuskan pengadilan. Entah berapa nilainya. Entah apa sudah dibayar atau belum.

Setelah semua masalah tuntas, proyek kembali dilanjutkan. Meski tidak begitu menggembirakan. Terminal sudah rampung lebih dulu. Penyelesaian runway tersendat. Gamang. Bingung menentukan panjang runway. Bukan soal anggaran. Tapi panjang runway yang memang harus melalui izin Kemenhub.

Setelah melalui berbagai rintangan panjang, bandara ini pun rampung. Bukan lagi sekadar memindahkan aktivitas penerbangan dari Bandara Temindung. Tapi sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar jenis Boeing 737-800.

Pesawat milik TNI AU yang mendarat sehari sebelum kedatangan Presiden Jokowi 24 Oktober 2018 menjadi momentum. Keesokan harinya bandara ini pun didarati pesawat presiden dengan jenis yang sama. Instruksi Presiden Jokowi agar dua pekan ke depan sudah bisa melayani penerbangan domestik ke luar Pulau Kalimantan memang meleset. Tapi peristiwa Selasa, 20 November 2018, jelas menjadi sejarah.

Garuda Indonesia mencatatkan sejarah itu. Tepat pukul 10.00, sebanyak 100 penumpang diturunkan di Bandara APT Pranoto, dari 150 seat yang tersedia. 1,5 jam kemudian di pesawat yang sama, giliran 149 penumpang yang diterbangkan menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Saya termasuk dari 149 penumpang itu. Awalnya tak ada perasaan yang spesial yang saya rasakan. Tapi lambaian tangan puluhan petugas bandara yang terlihat dari balik jendela pesawat membuat suasana kebatinan saya berubah.

Dari seat 34H dengan penerbangan GA581, memori ingatan kembali membawa saya 10 tahun silam. Saat di titik yang sama pemandangannya masih berupa hamparan tanah berwarna merah yang berserakan. Seolah tak percaya jika akhirnya bandara ini bisa melayani penerbangan pesawat ke Jakarta dan kota besar lainnya di tanah air.

Saat pesawat mulai lepas landas pandangan saya tak lepas dari jendela pesawat. Sedikit merinding mendengar suara pesawat jenis Boeing dari bandara di Samarinda. Bukan karena takut ketinggian, tapi rasa bangga bahwa Samarinda ternyata juga bisa memiliki bandara untuk pesawat berbadan lebar.

Tak terasa air mata ini keluar ketika melihat dari jendela pesawat, terlihat Sungai Mahakam yang membelah Kota Tepian. Ikon Samarinda yang merupakan tempat saya bermain di masa kecil. Bahkan menjadi tempat ibu melahirkan saya dari sebuah rumah di bantaran Sungai Mahakam.

loading...

BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 12:22

Rp 14 Juta Ditemukan di Ember

SAMARINDA. Kawasan Gang Pulau Indah, yang terletak di Jalan DI…

Senin, 10 Desember 2018 12:14

Diterpa Isu Suap

“Semua sudah terjadi. Kita kalah dengan tim yang berjuang habis-habisan.…

Minggu, 09 Desember 2018 14:43

Tak Selamat di Gunung Keramat

SAMARINDA. Sejak di tanjakan Gunung Manggah, Jalan Otto Iskandardinata, truk…

Minggu, 09 Desember 2018 13:49

Oknum PNS Dinsos Bonyok

SAMARINDA. Urat malu Hidayat Firdaus (36), sepertinya sudah putus. Tak…

Sabtu, 08 Desember 2018 12:59

Berebut Beri Nama Anak, Istri Dihajar

SAMARINDA. Perselingkuhan dan ekonomi biasanya menjadi pemicu terhadinya kekerasan dalam…

Kamis, 29 November 2018 17:23

Mayat Berdarah Mengapung SKM

SAMARINDA. Warga dan siswa SMPN 21 di Jalan Tongkol, Samarinda…

Rabu, 28 November 2018 14:11

Kantor Aktivis Diserang

SAMARINDA. Aktivis lingkungan dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim kembali…

Selasa, 27 November 2018 16:04

Sekap Polisi, 9 Tahanan Kabur

SAMARINDA. Peristiwa kaburnya 4 tahanan di Polsek Samarinda Ulu, Jumat…

Senin, 26 November 2018 20:49

Curi Motor, Fitnah Sahabat

SAMARINDA. Meski dihadapkan dengan polisi, tapi Ivan Patisina tetap tak…

Senin, 26 November 2018 20:46

Hidup di Bontang, Nakal di Samarinda

SAMARINDA. Polres Bontang menjadikan Yusuf alias Ucup (33), warga Jalan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .