MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Selasa, 16 Oktober 2018 23:28
DBD Renggut Nyawa Anak di Palaran

Satu Kawasan, Empat Penderita Seorang Tewas

RAWAN. Empat anak menderita DBD di salah satu kawasan di Palaran

PROKAL.CO, SAMARINDA. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggang nyawa. Hal ini dilaporkan oleh satu warga Jalan Jalan Trikora, Gang Soponyono, RT 16, Kelurahan Handil Bakti, Palaran, bernama Endang.
Kepada Sapos, Sabtu (13/10) lalu, Endang mengaku jika 2 dari empat anaknya kini harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) IA Moeis, sejak beberapa hari sebelumnya. kedua anaknya itu masing-masing berusia 7 dan 8 tahun.
Belum lagi keluhannya tersebut direspons instansi terkait, duka justru menghampirinya. Kali ini, seorang keponakannya yang tinggal hanya bersebelahan rumah dengannya, harus meregang nyawa akibat DBD. Keponakannya itu masih berusia anak sekolah dasar.
Atas kematian anak saudaranya tersebut, Endang tak hanya berduka. Dia mengaku kesal karena belum ada tindakan nyata dari instansi terkait dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda untuk melakukan langkah antisipasi.
“Sudah beberapa hari dua anak saya dirawat karena DBD. Hari ini justru anak saudara saya yang meninggal dunia karena DBD. Ini sangat memilukan,” terang Endang dengan nada kesal, Senin (15/10) kemarin.
Sebelumnya, ia mengakui bahwa kawasan tempat tinggalnya memang sangat rawan DBD. Hal ini terbukti lantaran di kawasan tempat ia bermukim nyatanya ada empat anak sudah terjangkit penyakit mamatikan tersebut. Termasuk kedua anaknya yang saat ini masih dirawat.
“Daerah kami rawan DBD. Harusnya ada langkah dan perhatian dari pemerintah untuk melakukan penanganan segera,” tegas Endang.
Meski demikian, hingga saat ini Endang mengaku hanya mendapat pemberian bubuk abate dari petugas kesehatan setempat.
Minggu (14/10) lalu, kata Endang, ada pembagian empat bungkus bubuk abate dari petugas kesehatan. Namun dia menyebut itu tidak cukup. “Harusnya ada fogging,” tandasnya.
Empat penderita di satu kawasan dengan satu orang yang meninggal dunia, kata Endang, sudah termasuk kategori mengkhawatirkan. “Harusnya ada langkah yang lebih efektif agar tidak ada lagi yang terkena DBD,” urainya.
Tanty, staf di Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda, mengaku belum mendapatkan informasi terbaru mengenai adanya satu pasien DBD yang meninggal dunia. Sebelumnya ia hanya melaporkan dalam rentan waktu Januari hingga Oktober 2018 tercatat tiga orang penderita DBD yang meninggal.
“Nanti akan kami cek lagi ke sejumlah rumah sakit. Termasuk beberapa laporan kemarin yang menyangkut daerah rawan DBD,” singkat Tanty.
Sementara itu, Kepala DKK Kota Samarinda Rustam hanya mengingatkan warga pentingnya menggalakkan program 3M (menguras, menutup, mengubur). “Ditambah penggunaan lotion anti nyamuk. Itu sangat membantu untuk mencegah,” kata Rustam.
Soal fogging, Rustam justru tidak sependapat. Alasannya, langkah itu tidak membunuh semua nyamuk khususnya aedes aegypti, jenis nyamuk yang menularkan DBD. “Bisa dilakukan (fogging, Red) kalau ada pembuktian dari petugas kesehatan setempat,” ungkapnya. Artinya, petugas kesehatan dari puskesmas setempat harus melakukan pemantauan di kawasan tertentu sebelum melakukan fogging. “Karena harus dilihat dulu, apa memang di tempat itu ada jentiknya atau tidak,” pungkas Rustam kepada Sapos.

loading...

BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 16:53

PPK Tantang Ketua Panwaslu

<p>SAMARINDA. Status Ketua Rukun Tetangga (RT) menjelang perhelatan politik akhir tahun nanti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*