MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Selasa, 09 Oktober 2018 00:09
Tak Tahan Tanah Terus Tergerak-gerak

Kesaksian Pengungsi Bencana Gempa Sulteng

MENEPI KE TEPIAN. Seorang penumpang KM Aditya dan bayinya turun di Pelabuhan Samarinda, kemarin.

PROKAL.CO, Gempa dan tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) masih menyimpan duka mendalam. Korban yang selamat masih harus menanggung trauma kenangan bencana tak lantas memudar begitu saja.  


Misransyah (52) adalah satu dari ribuan pengungsi bencana gempa dan tsunami Sulteng. Warga Palu ini tiba di Pelabuhan Samarinda menumpang KM Aditya, Senin (8/10) sekitar pukul 12.15 Wita.

Di sepanjang perjalanannya ke Benua Etam, ia masih saja teringat-ingat peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya, keluarga dan ribuan warga Palu. Misransyah tiba di Samarinda bersama 19 orang lainnya. Termasuk dua anaknya, Abdul Rahman (19) dan Miftahul Jannah (16). Misran, nama sapaannya, berencana akan bermukim di Balikpapan, tanah kelahirannya.

Saat terjadi gempa, Misransyah kehilangan istri dan anaknya. Di tengah keputusasaan untuk bisa menemukan kembali kedua orang yang sangat dikasihinya itulah, ia dengan berat hati meninggalkan kota Palu.

Hal itu diungkapkan Misran, ditemui di dek A KM Aditya yang baru saja merapat. Misan masih ingat betul detik-detik kejadian memilukan yang merenggut istri dan anaknya. Dikisahkannya, sebelum kejadian dirinya baru saja sampai di rumah, usai seharian bekerja sebagai buruh bangunan.

Saat hendak istirahat, Misran merasakan getaran yang berangsur membesar. Dari ingatannya, ada sekitar dua kali gempa besar yang membuat rumahnya porak poranda. Tidak lama kemudian, air menghantam tempat tinggalnya, di Desa Lembagu, Kecamatan Tawaili, Pantoloan.

Dia merasakan ada sekitar dua kali ombak besar naik ke daratan, yang membuat perkampungan tempat tinggalnya rata dengan tanah.
"Saya tetap berada di rumah saat itu, istri saya keluar rumah untuk jemput anak yang sedang mengaji di masjid, saat itulah saya kehilangan istri dan anak terakhir saya," jelasnya.

"Kondisi setelah itu gelap, agak malam saya bertemu dengan anak kedua dan ketiga, sedangkan anak pertama saya selamat, sekarang dia sama suaminya di Makassar," tambahnya.

Pencarian terhadap istrinya yang bernama Rosnawati (39), dan anaknya yang bernama M Riski (9) dilakukan hingga dua hari. Akhirnya dirinya memutuskan untuk meninggalkan Palu karena masih takut akan adanya gempa maupun tsunami susulan.
"Kami takut, karena di sana masih goyang-goyang terus, apalagi banyak yang bilang ada gempa dan tsunami susulan. Jadi, saya putuskan keluar dari Palu," ucapnya.

Bantuan dari relawan dan petugas pun membuat dirinya dapat sampai ke Parepare, termasuk perjalanan menggunakan kapal ke Samarinda. Sebelum sampai di Parepare, dirinya dan dua anaknya sempat menginap dua hari di Poso, di posko bantuan yang dibangun oleh relawan dan petugas terkait.

"Saya ikut mobil-mobil di jalan saja, sempat nginap di Poso, lalu dibantu relawan sampai ke Parepare, termasuk naik kapal ini. Kami banyak ditolong sama relawan, terima kasih untuk mereka," ungkapnya.
Kendati istri dan anaknya hingga saat ini belum ditemukan, namun dirinya telah yakin untuk pindah tempat tinggal di Balikpapan.

"Nanti bakal kembali lagi ke Palu kalau sudah tenang semua, karena saya masih urus surat pindah, surat pindah sekolah anak juga. Kami pindah saja ke Kalimantan," terangnya.

"Semoga saja istri dan anak saya ketemu, tapi saya sudah ikhlas. Semoga saja tidak lagi terjadi bencana," harapnya.
Sementera itu, warga lain yang turut dalam rombongan, Ratnawati (37) mengisahkan, saat terjadi gempa ia sempat kehilangan kontak dengan suaminya selama dua hari. Dalam masa itu, berbagai upaya dilakukan agar bisa bertemu kembali dengan suaminya, Abdul Salim (39).

Saat terjadi gempa, ia hanya ditemani ketiga anaknya yang masih kecil, sementara sang suami sedang tidak berada di rumah.
Gempa yang mengguncang membuat seisi rumah bergoyang. Bahkan televisi yang berada di meja pun terlempar hingga mengenai mata kirinya hingga lebam.

Di tengah kepanikan, putri kecilnya Nur yang masih berusia 2 tahun, sempat terpisah dengannya. Nur baru ditemukan selang dua jam lamanya ia melakukan pencarian di antara reruntuhan bangunan rumah.
“Untungnya anak saya tidak terkena reruntuhan saat itu,” kata Ratna.

Di antara rentetan gempa susulan yang melanda, Ratna bersama ratusan warga lainnya berusaha menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi hingga sampai ke kemah penampungan.

Di sanalah ia dipertemukan kembali oleh suaminya dalam kondisi selamat. “Kami tidak memiliki apa-apa lagi di Palu, sehingga memutuskan untuk ke Samarinda bersama warga lainnya. Dan setelah tiba ini, saya dan anggota keluarga meneruskan perjalanan lagi menuju Muara Kaman, Kukar. Di sana akan mencari kehidupan baru,”  tutup Abdul Salim, menambahkan.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto mengatakan, dari data pemerintah Kota Samarinda, setidaknya terdapat 50 warga palu yang mengungsi ke Samarinda. Kebanyakan para pengungsi ini di tampung ke rumah terdekat keluarga masing-masing. “Kita tetap melakukan pemantauan terhadap para pengsungsi ini dengan berkerja sama dengan pemerintah kota. Dan Alhamdulillah seluruh pengungsi yang masuk dalam keadaan sehat dan berkumpul dengan anggota keluarga yang siap menampung mereka,” ujar Vendra. (sapos)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 23:28

DBD Renggut Nyawa Anak di Palaran

SAMARINDA. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggang nyawa. Hal ini dilaporkan oleh satu…

Senin, 15 Oktober 2018 22:48

Habib Umar Diisukan Diciduk Densus

SAMARINDA. Isu tak sedap menerpa kedatangan Guru Mulia Al'Alimul' Allaamah Al Arif Billah, Al Habib…

Senin, 15 Oktober 2018 22:39

"Gempa" di Loa Janan

SAMARINDA. Gempa 7,4 skala richter di Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa waktu lalu, seolah kembali…

Senin, 15 Oktober 2018 00:16

Isran “Haramkan” Antrean Panjang di SPBU

SAMARINDA. Belum sebulan pasca dilantik sebagai Gubernur Kaltim, Isran Noor mulai mereview kembali janji-janji…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:37

Penculik Anak Berkeliaran, Warga Samarinda Resah

SAMARINDA. Kabar penculikan anak di luar Samarinda membuat orangtua khususnya ibu rumah tangga (IRT)…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:35

Jaga Salat, Niscaya Musibah Diangkat

Kedatangan ulama besar asal Tarim, Hadramaut, Habib Umar Bin Hafidz di Samarinda menjadi magnet. Bak…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:47

Wanita Hamil Nyaris Dibakar

SAMARINDA. Usman tergolong pria yang sangat sadis. Dihadapan anak-anaknya, pria paruh baya itu nyaris…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:46

Berkat Batang Kayu, Berebut Keluar Kota Palu

TAK ada yang menyangka jika Kota Palu akan luluh lantak akibat gempa dan tsunami.  Termasuk belasan…

Rabu, 03 Oktober 2018 23:16

“Banjir” Solar, Tulang Lutut Retak

SAMARINDA. Satu persatu pengendara motor berjatuhan ketika melintas di Jalan Cendana, tak jauh dari…

Rabu, 03 Oktober 2018 23:15

“Yang Penting Bisa Keluar dari Palu Dulu”

Gempa dan tsunami 7,4 SR yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah (Sulteng) Jumat (28/9)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .