MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Kamis, 04 Oktober 2018 23:46
Berkat Batang Kayu, Berebut Keluar Kota Palu

Kisah Anggota Samarinda Airsoft Community yang Selamat dari Tsunami

KENANGAN PAHIT. Beberapa anggota Airsoft Community saat mandi sesaat sebelum gempa. Sementara Aji (kanan) dan Rendy ketika menceritakan kejadian di Palu kepada wartawan.

PROKAL.CO, TAK ada yang menyangka jika Kota Palu akan luluh lantak akibat gempa dan tsunami.  Termasuk belasan anggota Samarinda Airsoft Community yang akan berlaga dalam festival Pesona Palu Nomoni III. Tak sempat bertanding, mereka justru harus berjuang menyelamatkan diri dari bencana alam yang maha dasyat.

Zakarias Demon Daton, Joko Iswanto

MENTARI 28 September mulai tenggelam di Kota Palu. Waktu menunjuk pukul 18.02 Wita. M Husni Djamanie mengajak teman-temannya yang tergabung dalam komunitas airsoft gun kembali ke hotel Wina Beach, tempat mereka menginap. Peserta festival asal  Samarinda ini sedang asik mandi di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) sesaat sebelum gempa menerjang kota itu.


SEBANYAK 16 orang dari Samarinda yang diundang pemkot Palu berpartisipasi dalam festival Pesona Palu Nomoni III. Undangan ini yang ketiga kalinya.
Dengan mata berbinar, Husni mengingat, sore itu pantai sangat ramai. Wajar, karena kota mereka baru saja merayakan ulang tahun ke-40. Festival tersebut digelar di sepanjang pesisir Teluk Palu. Dari Hotel Wina Beach hingga anjungan Pantai Talise. Kira-kira sepanjang 3,8 kilometer, tenda-tenda dan panggung festival berdiri berjajar.
GEMPA MULAI TERASA
Sebelumnya, saat baring-baring di kamar hotel setelah tiba, Husni sudah merasakan adanya tanda-tanda gempa. Namun ia tidak menyangka akan separah itu. Persis setelah Jumatan, pukul 13.30 Wita gempa pertama terjadi. Namun skala kecil, getarannya pun nyaris tak terasa.
“Memang goyang tempat tidur. Tapi banyak yang tidak sadar. Merasa biasa saja,” ujar Husni kepada awak media ini saat ditemui di rumahnya di Jalan Merdeka 3, kemarin.
Waktu terus berlalu. Usai salat Ashar terjadi gempa susulan, lagi-lagi skala kecil. Husni dkk tak begitu panik. Namun getaran makin terasa. Beberapa kawan Husni menduga mungkin mobil besar trailer sedang melintas. Karena, hotel yang mereka tempat sangat dekat jalan jalur utama.
Saat gempat kedua,kata Husni, beberapa media nasional sudah mulai memberitakan. BMKG pun sempat merilis terjadi gempa di Palu namun tak se-viral saat sekarang. “Ada teman saya tunjukan berita gempa Palu itu di Detik.com via handphone,” ungkapnya. Namun, berita itu tak dihiarukan.
Sampai pukul 17.00 wita Husni dkk membagi tugas. Sebagian mengikuti technical metting dengan panitia festival. Sebagian lainnya memilih berenang di pantai dekat hotel.  
“Kami ada 7 orang berenang di pantai. Tapi saya tidak bisa berenang jadi tak ikut mandi. Saya yang foto-foto mereka. Kurang lebih 45 menit sebelum kejadian, kami bermain di bibir pantai itu,” kenang dia lagi.
Di bibir pantai cerita Husni, dibikin turap layaknya tepian Mahakam. Ada PKL di sepanjang pantai itu. “Saya sempat berdiri di atas turap. Teman-teman minta foto,” lanjut dia.  
Ketika, waktu sudah menujuk pukul 17.50 Wita, Husni mengajak teman-temannya untuk kembali ke hotel. Dari 7 orang itu, hanya 5 yang mengiyakan. Dua diantaranya masih asik mandi. Saat tiba di hotel, Husni berjalan di lorong kamar hendak membuka pintu.
Tiba-tiba guncangan hebat mengempas seisi ruangan. Durasi goncangan sekitar sekian menit. Husni dan beberapa rekannya langsung terlempar sana sini. Mereka merangkak untuk keluar hotel. Guncangan terus mengguncang bumi Palu. Perlahan mereda dan kembali goncang. Begitu terus.   
“Saya langsung terlempar jatuh. Gemuruh gelombang laut sangat terdengar. Semua teriak Allahu Akbar,” kisahnya.
Tiba-tiba plafon hotel roboh menghantam kepalanya. Batok kepala Husni langsung bengkak. Ia merangkak kesakitan sambil memegang kepala. Saat keluar hotel banyak orang sudah berlarian dari luar rumah. Di depan hotel pun, kulit aspal jalan mulai terkelupas.
Semua orang berlarian keluar rumah, teriak “air naik.. air naik”. Gelombang tinggi laut seketika menyapu seisi dataran. Suasana mulai gelap. Sebab sesaat setelah kejadian mati padam. Orang-orang berlari mencari tempat lebih tinggi untuk berlindung.
Dalam hitungan detik, orang-orang panik. Dalam hitungan menit, gelombang ombak makin mendekati bibir pantai. Ombak ---ada yang menyebut setinggi enam hingga delapan meter--- langsung menggulung segala kemeriahan festival itu. Arusnya terus menyapu daratan hingga 200-an meter dari bibir Teluk Palu.
Seluruh warga tunggang langgang menyelamatkan diri. Sebagian besar berlari ke Jembatan Ponulele atau yang dikenal Jembatan Kuning. Tapi, jembatan lengkung itu ambruk dihantam arus tsunami. "Banyak orang lari ke jembatan. Dan banyak juga jadi korban di sana. Karena mereka anggap di situ aman,” terang Husni.
Malam itu Kota Palu mencekam. Para korban sahut-menyahut meminta pertolongan. Beberapa dari mereka yang selamat tidur di pinggir jalan, di bukit-bukit tinggi. Ribuan warga bermalam di taman kota. Jalan-jalan retak. Kulit aspal terkelupas.
Husni dan kawan-kawan berlari mencari tempat perlindungan, namun sempat terpencar. Dua kawannya masih tertinggal saat berenang sore di pantai tadi. Sambil berlari menuju tempat yang lebih tinggi, Husni teringat kakaknya, Helmi Djamanie di Samarinda dan menelponnya. “Saya cedera, saya cedera,” teriak Husni begitu sang kakak menerima telepon.
Tiba-tiba telepon putus. Helmi tak bisa menghubungi adiknya kembali. Sudah di luar jangkauan. Semalaman Helmi tak bisa tidur memikirkan adiknya.  
Dari bukit tinggi berjarak sekitar 500 meter dari hotel ke arah Barat, di situ tempat Husni dan teman-temannya berkumpul bersama warga setempat. Merasa masih tak aman, mereka berlari lagi hingga kurang lebih satu kilometer. Tiang tiang listrik sepanjang jalan patah berserakan. Malam semakin larut, jaraka pandang semakin dekat. Gelap total. Seperti kota mati. Hanya terdengar suara teriakan dan histeris orang-orang.
Setelah berlindung di tempat ketinggian dan merasa aman, mereka mulai mendata jumlah peserta komunitas Airsoft gun. Total seluruh peserta Airsoft gun dari Kaltim ada 24 orang. 16 diantaranya dari Samarinda. Sementara, total keseluruhannya ditambah beberapa daerah lain seperti Bandung, Jakarta dan lainnya ada 71 orang.
Dari total itu, ada beberapa teman yang masih tercecer, termasuk Teddy --teman Husni-- peserta dari Samarinda. Teddy diketahui sempat menghilang dari rombongan sesaat setelah guncangan. Ia cedera lutut. Tempurung lutut Teddy tergeser saat melompat dari ketinggian di depan hotel tempatnya menginap bersama temannya lainnya.
Memasuki pukul 21.30 Wita, rombongan airsoft gun ini sempat salat bersama mendoakan beberapa teman yang belum kembali di titik kumpul. Jaraknya kurang satu kilometer dari hotel, tempat mereka menginap. Usai salat, tiga teman Husni diutus turun mencari teman lain terpisah.
“Beberapa jam kemudian mereka datang, bilang hotel sudah habis. Tidak ada barang-barang yang tersisa,” katanya.
Bermodalkan pakaian di badan, rombongan itu melanjutkan perjalanan. Tak tahu arah tujuan. Husni tak memakai sendal atau pun sepatu. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima kilo meter baru mereka mendapat pertolongan warga. Mereka diinapkan di guest house.
Keesokan akhirnya atau Sabtu 29 September, mereka menuju Bandara. Situasi di Bandara pun memanas. Oramgt-orang saling dorong ingin keluar dari Kota Palu. Semua mengantre di loket bandara bagai semut. Rombongan komunitas airsoft gun akhirnya berhasil terbang dari Palu ke Makasar menggunakan pesawat Hercules.
Sempat menginap semalam di Makasar, Senin 30 September, rombongan ini terbang ke Balikpapan menggunakan pesawat komersil. “Sial. Dalam situasi begitu, harga pesawat yang lazimnya hanya berkisar Rp 400-600 ribu, rute Makasar – Balikpapan melonjak tajam jadi Rp1,2 juta,” keluh Helmi saat menjemput sang adik dan rombongan di Makasar.
Namun tak semua ikut pulang. Ismail, Azhari dan Ferly memilih menjadi relawan untuk membantu keluarganya yang masih tertinggal di Palu. Helmi pun memilih tinggal dan menolong beberapa korban di Palu. Ia baru tiba di Samarinda beberapa hari kemudian. Sementara peserta laga airsoft guns yang lain yang tiba di Balikpapan langsung digiring ke Gedung KNPI untuk istirahat, sebelum pulang ke kabupaten/kota asal mereka.
Di tempat terpisah, kisah memilukan lain datang dari Ahmad Rendi Saputra. Pria 29 tahun selamat dari musibah gempa dan tsunami di Kota Palu. Nasib baik masih berpihak pada pemuda yang juga menjadi anggota Samarinda Airsoft Community. Ia selamat dari maut, kendati sempat terseret arus air laut yang menyelimuti ibu kota Provinsi Sulteng itu.
Di temui di Café Antara, Jalan Dahlia, Samarinda Kota, Rendi menyebut sebelum bencana itu terjadi, ia tengah mengikuti sesi technical meeting. Sekitar pukul 18.00 Wita, technical meeting dihentikan panitia. Sembari menunggu, Rendi melepaskan dengan duduk di pelataran hotel, sembari menikmati keindahan pantai Kota Palu.
Rupanya, saat duduk dan bersantai itulah bahaya mulai mengancam. Tepat pukul 18.0 0 Wita guncangan gempa mulai ia rasakan. “Kejadiannya sebelum magrib, sangat cepat, semua barang berjatuhan, kaca-kaca semua pecah, saya sangat kaget dan penghuni hotel saya lihat berlarian,” kata Rendi, kemarin (3/10).
Setelah beberapa saat gempa berlangsung, air laut yang semula ia lihat turun tiba-tiba naik. Gulungan ombak besar terpapar jelas di depan matanya. Air laut itu seolah-olah mengejar dirinya dan seluruh warga di sekitar pantai. Sesaat Rendi seperti terpana dengan kejadian itu. Tanpa ia sadari, air naik ke pantai dan mendekati posisinya duduk.
ANTARA HIDUP DAN MATI
Dalam hitungan detik, air menerjang dan menenggelamkan tubuhnya. Di antara hidup dan mati, Rendi berusaha bertahan dari terpaan air laut yang terus datang. Tubuhnya sempat terempas hingga sebuah batang kayu berhasil diraihnya. “Sempat timbul tenggelam mengambil napas. Untungnya saat itu air cepat surut,” ucap Rendi.
Air yang surut bukan berarti  bahaya telah berlalu. Tak lama kemudian tsunami kembali datang. Di tengah kepanikan, ia berusaha mengambil tas miliknya di dalam gedung. Menurutnya tas itu penting, lantaran berisi surat-surat berharga dan ponsel sebagai alat komunikasi.
“Hampir semua ruangan di dalam hotel rusak. Akhirnya saya bisa menggapai (mengambil, Red) tas dan langsung berlari ke belakang hotel,” paparnya menerangkan.
Meski sempat terpisah beberapa rekannya, tekad kuat untuk bertahan hidup di tengah maut yang mengancam menjadi rasa yang selalu ia pertahankan. Berhasil menemukan permukaan yang lebih tinggi, Rendi kemudian mendaki bukit di belakang hotel. Di sana, beberapa rekan lainnya rupanya sudah lebih dulu menunggunya, termasuk Aji Andri Pabian (38) rekan satu timnya.
“Air terus datang, sedangkan bumi di mana kami pijak seperti bergetar hebat, sampai-sampai aspal yang kami pijak pun bergelombang naik turun. Kami tak sempat lagi berpegangan pada apapun, dan hanya bisa berlari terus ke atas bukit untuk menyelamatkan diri,” ucap Aji menambahkan.
Saat kondisi sedikit tenang, situasi di Kota Palu menjadi gelap gulita. Tak satupun penerangan umum yang berfungsi. Kota yang sebelumnya gegap gempita menjadi kota mati. Sesekali keduanya bisa mendengar raungan warga meminta pertolongan. Namun mereka tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa meneruskan perjalanan hingga menuju bandara terdekat.
“Selama dua hari kami sangat kekurangan bahan makanan dan air bersih. Kondisi di bandara sesampainya kami di sana pun sudah sesak dipenuhi warga yang hendak mengungsi, sehingga kami justru membantu untuk memilah pengungsi wanita dan anak-anak yang menjadi prioritas saat itu,” terang Rendi.
Meski sudah tiba di Samarinda dengan munumpang pesawat Hercules yang disiapkan TNI, Rendi masih mengingat kengerian yang sempat dialami bersama rekan-rekannya. “Ini saja seperti masih terasa. Dan Alhamdulillah semua rekan kami selamat dari gempa dan tsunami saat itu,” tutupnya.

loading...

BACA JUGA

Minggu, 09 Desember 2018 14:43

Tak Selamat di Gunung Keramat

SAMARINDA. Sejak di tanjakan Gunung Manggah, Jalan Otto Iskandardinata, truk…

Minggu, 09 Desember 2018 13:49

Oknum PNS Dinsos Bonyok

SAMARINDA. Urat malu Hidayat Firdaus (36), sepertinya sudah putus. Tak…

Sabtu, 08 Desember 2018 12:59

Berebut Beri Nama Anak, Istri Dihajar

SAMARINDA. Perselingkuhan dan ekonomi biasanya menjadi pemicu terhadinya kekerasan dalam…

Kamis, 29 November 2018 17:23

Mayat Berdarah Mengapung SKM

SAMARINDA. Warga dan siswa SMPN 21 di Jalan Tongkol, Samarinda…

Rabu, 28 November 2018 14:11

Kantor Aktivis Diserang

SAMARINDA. Aktivis lingkungan dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim kembali…

Selasa, 27 November 2018 16:04

Sekap Polisi, 9 Tahanan Kabur

SAMARINDA. Peristiwa kaburnya 4 tahanan di Polsek Samarinda Ulu, Jumat…

Senin, 26 November 2018 20:49

Curi Motor, Fitnah Sahabat

SAMARINDA. Meski dihadapkan dengan polisi, tapi Ivan Patisina tetap tak…

Senin, 26 November 2018 20:46

Hidup di Bontang, Nakal di Samarinda

SAMARINDA. Polres Bontang menjadikan Yusuf alias Ucup (33), warga Jalan…

Sabtu, 24 November 2018 15:02

Markas Nelayan Digerebek

SAMARINDA. Hasil laut yang berlimpah sepertinya masih belum cukup bagi…

Jumat, 23 November 2018 16:03

Terbakar, Kawan Disangka Terpanggang

SAMARINDA. Menangis sejadi-jadinya. Hanya itu yang bisa dilakukan Maimunah (50).…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .