MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA

METROPOLIS

Rabu, 19 September 2018 10:24
Dulu Kantongi Rp 4 Juta Per Bulan, Kini Hanya Rp 500 Ribu

Nasib Buruh Komura Pasca Petinggi Koperasi Tersandung Kasus Hukum

TERDAMPAK. Buruh Komura saat menggelar unjuk rasa beberapa waktu lalu. Buntut kasus hukum yang menimpa pimpinan Komura, pendapatan para buruh menurun drastis.

PROKAL.CO, Kasus hukum yang menjerat sang pimpinan Komura, Jafar Abdul Gaffar berdampak luas. Kehidupan ribuan anggotanya yang sebelumnya mapan kini tak menentu. Penghasilan menurun drastis. Keluhan demi keluhan mereka utarakan demi menafkahi keluarga.

SECARIK kertas kusam tergeletak di atas meja di sebuah kafe di bilangan Jalan Untung Suropati, Sungai Kunjang, saat harian ini menemui Hamaluddin, Senin (17/9). Kepala Unit Kerja 35 F Komura ini menulis tangan di kertas itu. Ia luapkan keluhan buruh Komura selama kasus hukum menjerat sang pimpinan.

Ya, paska penangkapan Jafar Abdul Gaffar, kehidupan anggota Komura terus merosot. Penghasilan yang sebelumnya tembus Rp 3-4 juta per bulan, kini tak sampai Rp 1 jutaan per bulan. Hamaluddin mengungkapkan pendapatan sebulan fluktuatif. Namun paling banyak Rp 1,5 juta. Kadang kala tak sampai Rp 1 juta, tergantung bongkar muatnya. Hanya berkisar Rp 500-800 ribu sebulan.

Penurunan pendapatan itu seiring dengan turunnya tarif bongkar muat yang sebelumnya disepakati Rp 180 ribu per kontainer atau box sebelum kasus hukum. Turun menjadi Rp 35 ribu per kontainer per sekali bongkar. Nilai tersebut dipatok sepihak, KSOP dan pengusaha. Mereka menilai KSOP sebagai pelindung menutup mata atas permasalahan ini. Padahal, tarif tersebut tahun 1996.
Menurut Hamaluddin, sejak terjadi kasus hukum di Komura, buruh juga tak dibayar selama 7 bulan. Setelah itu baru ditetapkan tarif bongkar muat Rp 35 ribu per kontainer. Dirinya meminta kepada KSOP untuk membantu menyelesaikan permasalahan buruh. Beberapa kali pihaknya meminta tolong kepada KSOP tapi tak ditanggapi. Harapan pertolongan juga disampaikan ke Disnaker Samarinda, Dinas Koperasi dan DPRD Samarinda.

Dengan penghasilan tersebut Hamaluddin tidak sanggup membiayai anak dan istri. Permasalahan ini sudah berjalan sejak 1 tahun 7 bulan. “Saya kalau tidak utang, anak istri saya tidak makan,” katanya.

Hambali, kepala unit lain juga mengungkapkan demikian. Buruh kehilangan pendapatan sekitar 80 persen sejak terjadi kasus hukum. Kesepakatan penentuan tarif sebesar Rp 35 ribu awalnya sempat deadlock. Tidak ada titik temu. Buruh meminta agar tarif dikembalikan seperti semula Rp 180 ribu. Namun pengusaha menekan serendah-rendahnya. Akhirnya diambil kesimpulan mengikuti upah buruh Balikpapan.

Kendati demikian, Hambali membeberkan ada dugaan dibalik upah rendah buruh. Sebab di waktu bersamaan PT Pelabuhan Samudera Palaran (PSP) sebagai pengelola TPK Palaran menaikkan biaya angkut dari dermaga ke tempat bongkar muat. Jadi, upah buruh ditekan, tapi biaya angkut PT PSP dinaikkan.

“Kami melihat ada siasat. Mereka jatuhkan tarif buruh lalu PT PSP menaikan tarif angkutan Rp 1,1 juta jadi Rp 1,5 juta. Artinya mereka ambil kesempatan dari kasus ini," lanjutnya. Tak hanya itu. Ia juga mencium kejanggalan yang dilakukan ALFI selaku perusahaan yang menjembatani pengusaha dan buruh untuk urusan bongkar muat. Di TPK Palaran ada dua asosiasi yakni ALFI dan INSA. Sejak kasus hukum mencuat 17 Maret 2016 lalu, kala itu PT PSP mengeluarkan surat 19 Maret. Bunyinya, seluruh upah buruh bongkar muat ditiadakan untuk sementara waktu.

Namun di saat bersamaan, ALFI masih menarik biaya bongkar dari pengusaha tapi tidak dibayarkan ke buruh. “Mereka pungut dengan dalil upah titipan buruh. Tapi uang itu tidak disetor ke buruh. Karena ada surat dari PT PSP terkait bebas biaya bongkar. Jadi kemana uang itu,” ungkapnya nada tanya.

Kurang lebih 2-3 bulan berjalan ALFI menarik biaya bongkar muat itu dari pengusaha. “Buruh menuntut jika ada upah titipan tersebut maka silakan diberikan kepada buruh. Sementara waktu berjalan hingga 7 bulan buruh tak mendapat hak apapun dari aktifitas bongkar muat,” tutupnya. (sapos)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 10 Oktober 2015 08:38

Membernya Ribuan, Gelar Resepsi di The Concept

<p>Dulu, olahraga lintas alam atau sering disebut hash atau on-on tak banyak yang mengetahui apalagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .