MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Selasa, 18 September 2018 21:40
PERINGATAN..!! Ternyata Kredit Macet Kaltim Terbesar

OJK Sarankan Bank Evaluasi RBB

HASIL ALAM. Kinerja perusahaan pertambangan batu bara yang sempat menurun, membuat kredit macet dari sektor ini cukup tinggi.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Kaltim menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) tertinggi yakni 5,40 persen per Juni 2018 year of year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari wilayah lain seperti Kalimantan Barat yang hanya 2,20 persen, Kalimantan Tengah 2,37 persen dan Kalimantan Selatan 4,27 persen.

Merespons soal itu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 9 Kalimantan, M Nurdin Subandi, meminta kepada bank untuk melakukan pemetaan (mapping). Sasarannya kepada debitur untuk mengetahui kelancaran pembayaran.

Begitu sudah diketahui nasabah tersebut, tentu dipilah mana skala prioritas perlu diselesaikan. Begitu juga dengan mengevaluasi rencana pertumbuhan kreditnya. Jika tidak tumbuh dengan baik, maka perlu mengganti kredit bermasalah tersebut. “Kalau kredit naik pendapatan banyak. Otomatis NPL bisa turun,” katanya saat memberikan materi terkait perkembangan jasa keuangan di regional 9 Kalimantan kepada awak media, Jumat (14/9) lalu di Jakarta. 

Sebab itu, OJK meminta bank mengevaluasi kembali rencana aksi bagi nasabah kredit bermasalah itu. Kemudian OJK juga mendorong agar dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) perlu dievaluasi penyaluran kreditnya, arahnya, serta sasarannya dan lainnya. Semua upaya tersebut, kata dia, dalam rangka mendorong bank agar bisa menekan NPL. “Itu yang kita mintakan,” tuturnya. 

Data Bank Indonesia Perwakilan Kaltim menyebut kebanyakan kredit macet disumbang sektor pertambangan batu bara. Risiko kredit tertinggi pada sektor ini berada pada level 40,47 persen pada triwulan II tahun lalu seiring dengan penurunan kinerja pertambangan.

Namun, pada triwulan II 2018 risiko kredit sektor pertambangan sudah sedikit mengalami perbaikan NPL sebesar 7,72 persen. Meskipun masih di atas batas NPL yaitu 5 persen, namun sudah ada tren perbaikan. Selain sektor pertambangan, sektor utama ekonomi yang masih di atas threshold 5 persen adalah sektor transportasi dan komunikasi yaitu 14,60 persen, perdagangan, hotel, dan restoran 8,84 persen, dan sektor konstruksi 5,99 persen.

Sedangkan risiko kredit yang rendah berada pada sektor Listrik, Gas, dan Air (LGA), dan pertanian dengan NPL di bawah 1 persen. Sektor pertanian dianggap cukup sehat dalam penyaluran kredit. Karena hanya mencatat NPL dibawah 1 persen, dengan pangsa penyaluran kredit ke sektor pertanian sebesar 18,09 persen dari total kredit.

Kendati demikian, secara umum pertumbuhan penyaluran kredit menunjukkan tren positif di Kaltim. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kaltim pada triwulan II 2018. Pertumbuhan kredit positif pada triwulan II 2018 sebesar 5,67 persen, setelah mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar  minus 0,02 persen.

Penurunan risiko kredit ini didukung membaiknya risiko Kredit Modal Kerja (KMK) yang menurun dari 6,23 persen dari triwulan lalu menjadi 5,06 persen pada triwulan II 2018, dan Kredit Investasi (KI) yang sedikit mengalami penurunan dari 6,24 persen menjadi 6,03 persen.

Subandi menjelaskan, kredit bermasalah bisa saja dilakukan menggunakan dua sisi. Selain penagihan juga perlu peningkatan kembali sisi kreditnya, sehingga dapat mengimbangi NPL tersebut. Batu bara jadi sektor penyumbang NPL terbesar. Apakah bank perlu hati-hati dalam menyalurkan kredit kepada sektor tersebut?  Subandi tak membantah. Ia membenarkan bank perlu hati-hati.

Setiap perbankan punya strategi dan RBB. Tentunya, setiap 6 bulan kewajiban bank menyampaikan realisasi sebagai alat monitor.
Selain itu, kebijakan bank melakukan monitoring secara bulanan perlu ditingkatkan. Termasuk rencana ekspansi kredit ke sektor mana saja dengan pertimbangan skala prioritas. “Dan itu dievaluasi jajaran direksi sebelum dilaporkan ke OJK,” tandasnya. 

Karena itu begitu dilaporkan realisasi RBB-nya tentu menjadi domain pengawasan OJK. Kalau kemudian bank tersebut konsen terhadap batu bara maka tentu harus diimbangi dengan mitigasi. OJK menyarankan agar bank mereview kembali rencana penyaluran kredit. “Perbankan memang harus hati-hati,” tutupnya. (sapos)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 April 2019 22:01

Jaang: Terima Kasih, Pemilu Berjalan Lancar

SAMARINDA. Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menyampaikan terima kasih kepada…

Jumat, 19 April 2019 21:58

Umrah Hanya Rp 23 Juta

SAMARINDA. Bagi warga Samarinda atau Kaltim yang berkeinginan melaksanakan ibadah…

Jumat, 19 April 2019 21:57

Siswa SMK Medika Main di Empat Negara

SMK Medika yang merupakan sekolah berbasis kesehatan hingga saat ini…

Rabu, 17 April 2019 22:08

“Apapun Hasilnya, Jaga Kondusif Kota”

RABU (17/4), hari menentukan bagi Republik Indonesia (RI) dengan telah…

Rabu, 17 April 2019 22:06

UT Gelar Rapat Evaluasi Tahunan

Pihak Universitas Terbuka (UT) Samarinda mengadakan rapat tahunan yang diikuti…

Selasa, 16 April 2019 22:08

BPJS Kesehatan Gelontorkan Rp 11 Triliun untuk Bayar Rumah Sakit

BPJS Kesehatan menggelontorkan dana sebesar Rp 11 triliun untuk membayar…

Selasa, 16 April 2019 22:07

Mitra Hadirkan Parade Top Dj Indonesia

HUJAN yang kerap terjadi belakangan ini tak lantas membuat atmosfer…

Selasa, 16 April 2019 22:06

“AYO DATANG KE TPS, COBLOS 5 KALI”

PEMKOT Samarinda begitu komitmen dalam menyukseskan Pemilu 2019 yang sejak…

Senin, 15 April 2019 22:05

Hati-hati! Penipuan Mengatasnamakan Hotel dengan Modus Esek-esek

SEJAK lama bisnis perhotelan dianggap sebagai suatu industri yang menguntungkan…

Senin, 15 April 2019 22:04

SMAN 5 Adakan Pelepasan dan Gelar Seni

SEBANYAK 338 siswa terdiri dari 174 siswa jurusan IPA dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*