MANAGED BY:
KAMIS
22 NOVEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Sabtu, 18 Agustus 2018 21:08
Ajak Balita Upacara di Lubang Tambang

Dijajah Batu Bara, Simbol Penolakan Warga

BUKAN DEMONTRASI. Warga RT 24 Kelurahan Sangasanga Dalam, Kukar, menggelar upacara bendera di lokasi tambang CV SSP, kemarin (17/8). Aksi ini sebagai simbol jika warga masih terjajah oleh tambang.

PROKAL.CO, SAMARINDA. Tepat 73 tahun lalu Indonesia menyatakan kemerdekaan. Namun kemerdekaan itu sepertinya belum benar-benar dirasakan warga RT 24, Kelurahan Sangasanga Dalam, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar). Bukan karena dijajah colonial. Tapi pertambangan batu bara yang merusak ekosistem lingkungan di kawasan sekitar. Lahan pertanian warga terkubur lumpur akibat tambang.
Sebagai bentuk penolakan, ratusan warga RT 24 menggelar upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-73 di lubang tambang CV Sangasanga Perkasa (SSP), kemarin (17/8). Warga membawa istri serta anaknya dalam kegiatan ini. Bahkan beberapa ibu membawa bayi yang masih berusia kurang dari 6 bulan.
Ketua RT 24, Zainuri mengatakan, warga dengan penuh kesadaran mengikuti kegiatan ini. Mereka meninggalkan semua pekerjaan harian. Ada yang bekerja di perusahaan, namun mengajukan izin demi mengikuti kegiatan ini. Sedangkan yang biasa berjualan di pasar atau berdagang pun memilih libur.
Upacara sengaja digelar di lubang Tambang CV SSP. Sebagai sikap tegas dan bentuk perlawan terhadap ancaman kerusakan lingkungan. Meski Indonesia sudah merdeka, tapi warga RT 24 merasa masih terjajah oleh kapitalisme. Seolah pemerintah lebih memihak kepada pemilik modal ketimbang jerit ketakutan warga RT 24 terhadap bahaya kerusakan lingkungan akibat tambang yang semena-mena.
"Karena warga melihat meskipun berkali kali CV SSP melakukan pelanggaran aturan pertambagan, tapi pemerintah tidak segera mencabut IUP CV SSP seperti tuntutan warga RT 24," ungkapnya kepada Sapos.
Disampaikannya, upacara ini menunjukan bahwa warga RT 24 sudah bertekat bulat menolak IUP CV SSP. Warga juga mendesak agar pemerintah segera mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) CV SSP. Apabila pemerintah memaksakan CV SSP tetap berjalan, maka dipastikan akan terjadi konflik yang lebih besar lagi. "Karena warga sudah sepakat untuk melawan tambang," tegasnya.
Warga tampak geram melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh tambang CV SSP. Apalagi sumber air hilang karena aktivitas tambang. Meski sebelumnya dilarang beroperasi oleh Dinas ESDM Kaltim, namun tak diindahkan CV SSP. Tetap beroperasi. Sebagai bukti, warga melihat tumpukan batu bara CV SSP sudah diangkut. Padahal pada saat sidak bersama pada 3 Agustus 2018 yang dilaksanakan oleh Dinas ESDM Kaltim, DPMPTSP Kaltim, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kukar serta Muspida Kecamatan Sangasanga dan Warga RT 24, baru bara itu masih menggunung.
Hal ini menjadi bukti CV SSP kembali melanggar perintah tegas Dinas ESDM yang tertuang dalam berita acara hasil sidak pada 3 Agustus 2018 lalu. Pada poin 5 berita acara disebutkan, 25 Juli 2018 CV SSP telah dilarang untuk melakukan kegiatan penambangan.
"Untuk itu kami minta sekali lagi kepada CV SSP untuk tidak melakukan penambangan lagi hingga memenuhi atau melengkapi dokumen-dokumen perizinan seperti halnya izin lingkungan, pembuangan air limbah dan izin pengelolaan B3," tegasnya.
Kemudian pada poin 2 disebutkan, CV SSP diharuskan melakukan penataan lahan untuk mengakomodir limpasan air sehingga tidak berdampak banjit di RT 24. CV SSP harus membuat peta water management dan segera membuat setlingpond dengan memperhitungkan antara tangkapan air (catchment area) dengan kapasitas tampung.
Namun alih-alih melaksanakan penataan lingkungan, justru CV SSP secara ilegal menjual batu bara yg diambil dengan cara tidak sah ke luar wilayah Kecamatan Sangasanga (Palaran). Warga RT 24 ada yang milihat dumptruck bermuatan batu bara CV SSP menuju Palaran. Dan salah satu driver dump truck ada menginformasikan itu ke salah satu warga RT 24.
"Jelas menyalahi aturan. Perusahaan penambangan telah melakukan aktifitas disini secara liar," tuturnya.
Padahal, sesuai permintaan Dinas ESDM Kaltim, kepada warga saat penandatangan berita acara, hasil peninjauan laporan di kantor Camat Sangasanga, bahwa berita acara ini merupakan peringatan terkahir bagi CV SSP. Oleh karena itu, warga RT 24 menuntut agar CV SSP diberi saksi tegas dengan dicabut IUP operasinya.
Warga juga sudah melaporkan dan mengirimkan foto serta video masalah pelanggaran CV SSP kepada DPRD Kaltim.
Upaya Sapos untuk mendapatkan konfirmasi dari pihak CV SSP belum membuahkan hasil. Hingga tadi malam, tak satu pun manajemen yang berhasil dihubungi untuk dimintai keterangan.
UPACARA DI “KAMPUNG LANSIA”
Hal yang berbeda juga dilakukan warga RT 12 di Jalan Kepalanga, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sungai Kunjang. Warga sekitar menggelar upacara bendera dengan menggunakan pakaian adat tradisional Mereka berjajar layaknya melakukan upacara. Pengibaran bendera merah putih dilakukan sejak pukul 07.00 Wita.
Ketua RT 12, Iin, yang turut serta sebagai peserta upacara mengenakan pakaian adat Bali. Lin mengaku bangga sekaligus terharu. Kegiatan ini terselenggaranya baru pertama kali.
Suatu kebanggan bisa menggelar upacara bertema pakaiana adat,” kata Iin.
Ketua pelaksana kegiatan, Agus mengungungkapkan, upacara bendera untuk memperingati HUT ke-73 RI memang baru pertama kali digelar. Dilakukan atas ususlan dan kesepakatan bersama antara warga dan aparat setempat.
Menurut Agus, dalam upacara peringatan hari kemerdekaan kali ini mereka sengaja memilih tema revitalisasi kebhinekaan. Mereka menggunakan hampir semua pakaian tradisional di Nusantara untuk diikutkan dalam pelaksanaan upacara.
“Ini adalah ungkapan keprihatinan sekaligus menggugah generasi muda kita. Kami kembali mengingatkan makna arti perbedaan tidak harus terpecah belah. Berbeda tapi tetap satu,” ucapnya.
Pihak panitia awalnya cukup khawatir jika warga tidak akan datang untuk mengikuti upacara. Di wilayah ini mayoritas warga adalah lansia.
Lurah Karang Anyar, Dinvi Kurniadi, yang bertindak sebagai pemimpin upacara mengatakan, kegiatan ini adalah hal menarik.
”Dan upacara ini pula semakin mempererat keakraban dan tali silaturahmi," kata Dinvi.

loading...

BACA JUGA

Selasa, 20 November 2018 14:02

6 Tahun Beroperasi Tanpa Izin

SAMARINDA. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda…

Selasa, 20 November 2018 14:00

Sehari Jadian, Rela Ditiduri

SAMARINDA. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas VI sekolah…

Senin, 19 November 2018 15:35

Tragedi KM 27 Loa Janan

TENGGARONG. Laju trailer atau truk gandeng bernopol KT 8657 DC…

Senin, 19 November 2018 15:31

Murka Istri Mandi Bareng Sopir

SAMARINDA. Tuntas sudah jalinan cinta segitiga yang dilakoni Yosef Niron…

Minggu, 18 November 2018 15:47

Tikam Istri Lalu Tersenyum

SAMARINDA. Warga Jalan Jakarta, Gang H Oyon, Loa Bakung, Sungai…

Minggu, 18 November 2018 15:40

Mufakat Jahat Loloskan IUP Bermasalah

SAMARINDA. Selisi data Izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara yang…

Sabtu, 17 November 2018 20:04

Ketua Dewan Dijebloskan ke Rutan

SAMARINDA. Dilaporkan karena diduga melakukan penggelapan, Ketua DPRD Samarinda Alphad…

Sabtu, 17 November 2018 19:59

210 IUP Diduga Tak Terdata di Pusat

SAMARINDA. Carut marut pengelolaan aktivitas pertambangan batu bara di Kaltim…

Jumat, 16 November 2018 11:45

Curiga, KPK Sidak Batu Bara di Mahakam

SAMARINDA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun gunung guna menelusuri dugaan…

Jumat, 16 November 2018 11:41

Rumah Sepasang Lansia Terus Bergerak

SAMARINDA. Sebuah rumah di Jalan KS Tubun terpaksa dikosongkan. Pergerakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .