MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Kamis, 02 Agustus 2018 23:02
Minim Bukti Auntentik, Kalangan Sipil Diabaikan

Polemik Mengusul Pejuang Kaltim Jadi Pahlawan Nasional

CAGAR BUDAYA. Makam Awang Long dijadikan cagar budaya. Panglima Kerajaan Kutai Kartanegara yang memimpin perang melawan Inggris dan Belanda ini sebelumnya diusulkan sebagai pahlawan nasional.

PROKAL.CO, Ada banyak pejuang lokal di Kaltim namun tak satupun yang masuk jadi pahlawan nasional. Pada sederet nama tersebut bertaruh nyawa melawan kolonialisme Belanda kala itu. Lantas apa kendalanya sehingga sulit memperoleh gelar pahlawan nasional?

Ketua Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) Muhammad Sarip mengatakan salah satu kendalanya, selama ini prosesnya langsung dikerjakan oleh Pemprov Kaltim. Padahal menurut regulasi, mesti ada tahapan usulan dari masyarakat kepada pemkot atau pemkab.

Pemprov Kaltim menemui jalan buntu dalam hal pengusulan calon Pahlawan Nasional karena nominasi tokoh yang bisa digadang-gadang sebagai Pahlawan Nasional tidak pernah diterima pemerintah pusat.

“Kendalanya pada kejujuran kita sendiri. Seberapa akurat dan valid profil perjuangan tokoh yang diusulkan,” ungkapnya, kemarin (1/8). Sejumlah tokoh yang pernah diusulkan pun rata-rata dari kalangan aristokrat lokal seperti Awang Long, Sultan Aji Muhammad Idris, Raja Alam, dan lainnya. Selain sumber sejarahnya diragukan, skala perjuangannya juga dianggap tidak luas. Tokoh, Awang Long saja sumbernya yang autentik tidak ada.

Dirinya menilai nominasi yang diusulkan oleh pemprov cenderung fokus ke tokoh dari kalangan aristokrat lokal. Sehingga terkesan mengabaikan masyarakat sipil yang punya rekam jejak perjuangan yang menasional. “Banyak pejuang dari kalangan sipil yang berjuang secara riil dan punya sumber sejarah yang valid jarang diusulkan,” katanya.

Dirinya mencontohkan, pejuang Sangasanga, komandan lapangannya adalah Boediojo. Tokoh ini nyaris dilupakan perjuangannya. Sehingga tidak pernah ada riset tentangnya, apalagi pemikiran untuk diajukan sebagai calon Pahlawan Nasional. Sejarah juga mencatat kesultanan di Kaltim berbeda dalam perjuangannya dengan kesultannan Yogyakarta. Sultan Yogyakarta langsung pro-RI 1945, sedangkan di Kaltim sebaliknya.

Namun, kini paling potensial dan memenuhi kualifikasi, baru Abdoel Moeis Hassan. Adapun pejuang lain, seperti Boediojo (pejuang Sangasanga), pejuang BPRI Samarinda, skala juang belum luas.

Dia mencontohkan pejuang lokal dari Kalsel, Panglima Batur. Ia adalah pemimpin rakyat Bakumpai, termasuk pasukannya Pangeran Antasari. Namun usulan pencalonan Panglima Batur sebagai pahlawan nasional ditolak,  karena belum cukup bukti sejarah tentang kapan dan di mana ia bertempur langsung melawan Belanda.

“Tapi, Panglima Batur masih bisa diusulkan dengan melengkapi data, karena batas pengajuan usulan maksimal dua kali,” sebutnya.
Yang perlu diingat bahwa untuk calon pahlawan nasional harus tokoh yang terlibat langsung pemimpin perjuangan, bukan bawahan atau prajurit. Bahkan, perjuangan pun jangan terjebak pada batasan aktivitas gerakan bersenjata atau militer. Perjuangan politik atau diplomasi juga masuk kriteria. “Banyak pahlawan nasional yang bukan pejuang gerilya,” jelasnya.

Intinya, Kaltim mestinya malu dengan tiga provinsi lain di Pulau Kalimantan yang sudah punya pahlawan nasional. Bahkan Kalsel punya 3 pahlawan nasional. “Cuma Kaltim, Kaltara dan Sulawesi Utara yang belum punya pahlawan nasional,” tutup penulis Buku Samarinda Tempoe doeloe ini.  Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kaltim, Ayi Hikmat mengatakan kelemahan Kaltim belum punya pahlawan nasional karena data uotentik tidak mendukung. Sehingga beberapa calon yang diusulkan pun ditolak oleh tim penguji. Selain itu pengusulan dari kabupaten dan kota pun tak mengusullkan. Sehingga sulit.

Sebelumnya dari Berau sudah mengusulkan Raja Alam, namun lagi-lagi terkendala data autentik. Sosoknya kurang memiliki bukti yang valid untuk diusulkan jadi pahlawan nasiona. “Jadi kami minta mereka melengkapi lagi,” katanya. Dirinya juga tak membantah jika sejumlah tokoh yang diusulkan dari kalangan aristokrat. Karena data dan bukti yang ada yang lebih lengkap hanya dari kalangan aristokrat. Mereka tak mematok target, namun pencarian bukti auntentik terus dilakukan agar tokoh Kaltim bisa diakui sebagai pahlawan nasional.

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 April 2019 14:19

Diparang, Kepala Robek-robek

SAMARINDA. Minimnya penerangan di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) akhirnya memakan…

Sabtu, 20 April 2019 14:05

44 Caleg Dapil Kaltim Gugur Duluan

KPU kabupaten/kota di Kaltim sedang merekapitulasi suara Pilpres dan Pileg…

Sabtu, 20 April 2019 14:01

QC: 01 Unggul di Kaltim

SAMARINDA. Hasil hitung cepat atau Quick Count (QC) dua lembaga…

Sabtu, 20 April 2019 13:58

Duel dengan Teman, Tewas di ICU

SAMARINDA. Suasana di samping Hotel Padaidi, Jalan Cipto Mangunkusumo, RT…

Kamis, 18 April 2019 13:45

OTT Rp 33,4 Juta Dekat TPS

SAMARINDA. Empat petugas Linmas ditambah beberapa warga lain sedang berjaga…

Kamis, 18 April 2019 13:42

Pembawa Duit Rp 33 Juta Itu Sempat Diteriaki Maling

MENJELANG subuh Ketua Bawaslu Kota Samarinda, Abdul Muin baru saja…

Kamis, 18 April 2019 13:37

Nyoblos Serasa Servis Kendaraan

Momen unik selalu muncul setiap perhelatan pemilu. Cara tersebut diyakini…

Selasa, 16 April 2019 15:44

Aset Jalan Besar, Tapi Banyak Rusak

SAMARINDA. Jalan rusak berstatus milik provinsi di daerah akan segera…

Selasa, 16 April 2019 15:35

Pejabat Kementerian Tewas di Aston

SAMARINDA. Salah satu agenda acara Gubernur Kaltim, Isran Noor kabarnya…

Senin, 15 April 2019 11:17

Didemo, tapi Isran Jadi Semangat

SAMARINDA. Gubernur Kaltim Isran Noor mengaku makin semangat meneken kerja…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*