MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA

KRIMINAL

Rabu, 30 Mei 2018 13:10
Kasus Pencabulan yang Sempat Divonis Bebas
Jangan Asal Eksekusi, Tunggu Salinan Putusan
Yahya Tonang

PROKAL.CO, SAMARINDA. Yahya Tonang, kuasa hukum terdakwa Alexander Agustinus Rottie (44) berang terhadap sikap Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda. Yahya menuding Kejari melakukan tindakan kriminalisasi terhadap kliennya.

Hal itu didasari rencana Kejari yang akan memasukkan Alexander dalam daftar pencarian orang (DPO) alias buronan. Alexander merupakan terpidana kasus pencabulan yang sudah divonis bebas di tingkat Pengadilan Negeri (PN) Samarinda, 18 Januari 2017 silam.

Namun di tingkat banding, Alexander dinyatakan bersalah. Dalam amar putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 2121 K/PID.SUS/2017,  Alexander dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya.

MA menjatuhkan pidana penjara 5 tahun dan pidana denda Rp 60 juta. Jika Alexander tak bisa membayar denda, maka dia diharuskan menjalani kurungan 1 bulan kurungan.

Sayangnya, hingga kini Yahya mengaku belum juga menerima turunan putusan lengkap secara detail dan rinci. Kata Yahya, pihak kejaksaan tidak bisa melakukan eksekusi hanya berdasarkan petikan.

“Harus ada legal secara administratif. Kami perlu membaca salinan putusan secara lengkap. Kalau itu tidak ada, maka tidak ada dasar untuk melakukan eksekusi. Hanya bersandar pada petikan, tidak bisa jadi alasan,” kata Yahya.

Dijelaskannya, menurut asas legalitas, menghukum seseorang harus berdasarkan alasan yang argumentatif, logika dan bahan hukum yang otoritatif berdasarkan bukti valid.

“Dalam sebuah putusan hakim, pengadilan wajib menguraikan alasan menghukum baik secara verbal maupun tekstual. Bukan hanya berdasarkan petikan semata. Karena petikan putusan tidak mengandung sebuah alasan menghukum,” lanjut pria yang juga kuasa hukum PT Titian Kaltim.

Menurutnya, hal ini tercermin pada setiap putusan pengadilan di tingkat pertama yang selalu dibacakan di depan terdakwa dan hadirin sidang secara terbuka. Meski terkadang terjadi distorsi, namun tetap harus ada alasan arugementatif yang didengar semua orang. “Hal ini menghindari kesan kriminalisasi terhadap seorang, yakni menghukum tanpa alasan,” jelasnya.

Di bagian lain, Yahya menerangkan bahwa putusan PN Samarinda terhadap terdakwa Alexander dalam hal ini adalah putusan bebas (virjspraak) dahulu dikenal putusan bebas murni. Namun sejak putusan MK Nomor: 114/PUU-X/2012 keluar, kemudian melegalkan pengajuan ke tingkat Kasi atas vonis bebas. Sehingga tidak ada lagi bebas murni. “Istilah awam, lepas kepala pegang ekor,” tandasnya.

Sehingga menurut Yahya, demi keadilan tetap harus turun putusan lengkap baru dilakukan eksekusi. Namun, katanya, sejak petikan MA keluar, pihaknya tidak pernah menerima putusan lengkap. “Bahkan sampai hari ini (29/5),” ungkapnya.

Kata Yahya, dari vonis juga terlihat ada keragu-raguan dari hakim MA. Karena vonis yang dijatuhkan lebih rendah dari tuntutan JPU, yakni 13 tahun. Semestinya, kata Yahya, dikenakan asas "In dubio pro reo.”

Karena itu, dia berharap pihak kejaksaan harus menghormati hak asasi kliennya. “Kita harus tahu apa alasan MA kembali menghukum dengan membatalkan putusan PN Samarinda,” urainya.

Karena itu dia berharap pihak penegak hukum dalam hal ini Kejari Samarinda menunda proses eksekusi, sebelum putusan lengkap dari MA turun. Karena pihaknya akan mempelajari alasan hukum guna upaya lain kedepan.

“Kami yakin bahwa putusan bebas PN Samarinda 18 Januari 2017 sudah sesuai fakta persidangan, menimbang dari keterangan saksi, ahli dan barang bukti yang diajukan JPU waktu itu,” tambah pengacara muda single fighter yang biasa dipanggil Beruk Tunggal itu.

Sebelumnya, Kasi Pidum Kejari Samarinda, Zaenal mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya persuasif untuk mengeksekusi Alexander. “Kami sudah dua kali menemui pihak keluarga untuk menanyakan keberadaan yang bersangkutan (Alexander, Red), namun yang bersangkutan tak bisa ditemui,” beber Zainal. (sal/adv/rin)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 23:16

PARAH..!! Bini Sendiri Dijual Rp 250 Ribu

Akibat menenggak minuman keras (miras), Ali Syauqi (21) tak bisa berpikir jernih. Antara mabuk dan tak…

Selasa, 16 Oktober 2018 23:26

Pasutri “Culik” Beras

SAMARINDA. Pasangan suami istri (Pasutri) yang membawa seorang balita laki-laki menggunakan mobil, berhenti…

Senin, 15 Oktober 2018 00:19

Maling Mendadak Mati Rasa

SAMARINDA. Hanya karena seorang wanita, Irawati selamat dari amukan warga. Ya, Irawati dipergoki warga…

Senin, 15 Oktober 2018 00:17

Dapat Rp 10 Juta, Terancam 12 Tahun

SAMARINDA. Irvan Fahrisal (19) dan Lutfi (36) bakal lama merasakan dinginnya sel tahanan. Kedua warga…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:38

Lagi, Mafia Lapas Berulah

SAMARINDA. Mafia di lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang berstatus nara pidana (Napi) tak kapok meski…

Jumat, 12 Oktober 2018 00:40

Penagih Utang Tersangkut Narkoba

SAMARINDA. Pihak kepolisian hingga kini masih menunggu kondisi Iswandi (45) membaik yang bonyok dihajar…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:12

Mau Panen, Jatuh dari Kapal

TANJUNG SELOR.  Seorang pembudidaya rumput laut bernama Ahmad (49), dikabarkan hilang saat sedang…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:44

Diversi “Mental”, Proses Hukum Berlanjut

SAMARINDA. Meski masih di bawah umur, bukan berarti ulah RS (15) bisa diselesaikan secara diversi. Kasus…

Rabu, 03 Oktober 2018 23:14

Perabotan Rumah Mewah Disita

SAMARINDA. Satu persatu isi perabotan di rumah mewah milik Rizal, warga Perumahan Villa Tamara di Jalan…

Rabu, 03 Oktober 2018 23:04

Preman Cilik Ngamuk

SAMARINDA. Umurnya baru menginjak 15 tahun. Namun nyalinya sekelas preman. Itulah RS. Bocah ingusan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .