MANAGED BY:
KAMIS
22 NOVEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA

GAYA

Minggu, 29 April 2018 00:15
Lestarikan Budaya Lewat Fotografi

PROKAL.CO, BUDAYA Indonesia yang begitu beragam tak akan habis untuk dipelajari, termasuk di Kaltim sendiri. Ancaman memudarnya kebudayaan asli pun dirasakan di Bumi Etam. Fotografi jadi cara Edi Sopiyan untuk bisa melestarikan budaya.

Untuk menghasilkan foto yang bertema budaya, Edi rela untuk berjalan jauh menelurusi hutan dan sungai di pedalaman Kaltim. Semua itu menurutnya untuk menghasilkan jepretan yang dapat mendokumentasi aktivitas budaya yang kini makin tersingkir.

Ia menjelaskan, gaya foto dari seseorang memang berbeda-beda. Nah dirinya memang lebih tertarik untuk mengabadikan aktivitas manusia, terutama yang berbau budaya. Makanya, pada edisi metro style kali ini dirinya menawarkan foto-foto tentang budaya suku Dayak di Kaltim. “Saya senang menonjolkan karakter budaya saat motret. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan budaya lewat foto,” ucap Edi.

Dari pandangannya, selama ini budaya di Kaltim sangat kurang terekam dan tidak ada referensi yang jelas. Bahkan untuk mendapatkannya, justru ada di negeri Belanda yang menjajah Nusantara selama 350 tahun. “Hal ini riskan, bisa hilang lama-lama. Makanya lewat foto ini saya merasa bisa membantu, bahkan bisa juga menjadi referensi nantinya,” urainya.

Pria yang kesehariannya seorang wirausaha juga tidak mempersoalkan dengan rasa lelah dan biaya yang keluar untuk bisa memotret kebudayaan Kaltim. Baginya semuanya terbayarkan dengan potret yang ia hasilkan. “Saya rasa ini sudah jadi soul saya. Jadi tak ada masalah mengenai rasa lelah dan biaya. Lagipula foto untuk model juga sama mahalnya, karena siapkan makeup, baju dan peralatan,” bebernya.

Untuk foto metro style kali ini saja, ia rela turun jauh-jauh ke tiga lokasi berbeda. Ulu Mahakam, Sungai Wahau dan Desa Mangkalihat di Kutai Timur ditempuhnya. Ia pun dengan luwes berinteraksi dengan suku Dayak. Bahkan proses pengambilan foto juga tidak ada masalah. “Sebenarnya suku Dayak itu begitu terbuka dan ramah, makanya saya mudah untuk berinteraksi. Walaupun beberapa juga dibantu dengan kepala adat atau tetua kampung,” katanya bercerita.

Dari pengalaman seperti itu, ia jadi semakin kagum dengan budaya di Bumi Etam. Edi juga semakin memahami karakter suku Dayak yang semakin terdesak dengan perkembangan zaman. “Mereka terus mencoba mempertahankan budaya mereka, tapi kemajuan zaman susah dibendung. Seperti wanita bertelinga panjang, saat ini makin berkurang,” paparnya. (hfz/beb)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 16 Oktober 2015 14:35

Residivis Diciduk Polisi Lagi

<p>BONTANG. Unit Opsnal Sat Reskrim Polres Bontang kembali mengamankan seorang residivis bernama…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .