MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Kamis, 01 Maret 2018 20:57
"Jangan Ikut Buka Kuliner, Sudah Banyak Pemainnya"

Nusyirwan Punya Cita-cita Buka Usaha Kecantikan Wanita

beri motivasi. Nusyirwan Ismail berbincang dengan Sapos (kanan) dan staf Diskominfo di ruang kerjanya, akhir 2017 lalu.

PROKAL.CO, Kecerdasan Nusyirwan Ismail tiada bandingannya. Setidaknya jika dibandingkan pejabat lainnya di Kaltim. Dia menguasai berbagai cabang ilmu. Termasuk insting bisnisnya di dunia usaha.

Jika seaentro balai kota Samarinda diminta mengenang sosok Nusyirwan, jawabannya pasti kompak: ramah, mudah akrab dan cerdas. Bagitu pun bagi teman-teman pewarta plat merah (wartawan Humas) di Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Samarinda.
Ya, figur Nusyirwan menjadi magnet bagi mereka yang ingin meliput setiap aktivitasnya di balai kota. Tak terkecuali bagi Akhmad Haidir Fersa, salah satu staf di Diskominfo Samarinda. Echa –sapaan akrabnya- memang memiliki kedekatan emosional dan pengalaman panjang bersama almarhum Nusyirwan. Berikut pengalamannya yang ditulis dengan gaya bertutur:
Di suatu siang pada 2014, di kantor Perwakilan Samarinda, Jalan Kramat 2, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. HP saya berdering. Ternyata ditelepon dari Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail.
Maklum waktu itu saya mendapat tugas untuk meliput kegiatan Pak Nus –sapaan Nusyirwan Ismail- di acara Kementerian Kesehatan RI. Saya tidak sendiri. Dari Samarinda berangkat bersama Kabag Humas Pemkot Samarinda, Masrullah (saat ini Sekretaris Diskominfo).
Percakapan kami di telepon cukup singkat. Pak Nus meminta kami untuk menyusulnya di hotel Redtop. Karena sekelas Wawali yang menelpon, saya pun langsung mengiyakan. Saya menelpon Pak Masrullah dengan maksud untuk mengajaknya bersama bertemu Pak Nus. Sayangnya pak Arul -sapaan akrab Masrullah- sudah lebih dulu jalan mencari buah tangan.
“Waduh. Aku sudah di jalan Cha. Enggak mungkin balik lagi. Pasti macet. Kamu saja yang temanin Pak Nus. Aku masih cari barang pesanan anakku,” kata Pak Arul.
Alhasil dari perwakilan, saya berangkat sendiri. Sampai di hotel yang dituju, ternyata Wawali sudah menunggu saya di lobi. Tanpa basa-basi beliau langsung mengajak saya untuk naik ke mobil yang siap mengangkut kami. waktu itu hanya sedikit kata yang keluar dari mulutnya. “Ayo temanin saya ke rumah pak JK (Jusuf Kalla),” tuturnya.  
Mendengar kalimat itu, saya langsung kaget. Tak bisa berkata-kata. Seperti mendengar guntur di siang bolong.
Waktu itu, JK memang belum menjabat sebagai wakil presiden (Wapres) mendampingi Jokowi. Tapi beliau pernah menjabat Wapres di Era Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Sehingga tetap tidak mudah untuk menemuinya.
Sepanjang jalan tampak tangan Wawali tak henti memencet tuts-tuts di Hp-nya. Gerakannya monoton. Berulang memencet HP. Dan menelepon misuh-misuh. Ternyata waktu itu Nusyirwan terus menjalin komunikasi dengan sekretaris pribadi JK untuk memastikan waktu yang tepat agar bisa bertemu. Dari mulutnya yang keluar hanya kata “bapak oke kan sudah”.
Sementara saya dan ajudan Nusyirwan yang berada dalam satu mobil hanya setia mendengarkan kalimat itu. Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, kami tiba di kediaman JK. Butuh waktu satu jam lebih untuk bisa tembus ke rumah Ketua PMI Pusat itu. Maklum, jam segitu memang waktu macet-macetnya di ibu kota negara. Setelah 15 menit menunggu di pos sekuriti, akhirnya kami dipersilakan masuk untuk menunggu di ruang tamu. Sedangkan ajudan Nusyirwan, Cahyo, lebih memilih untuk standby di luar. Akhirnya orang yang kita tunggu pun keluar menemui. Rasa seperti mimpi. Akhirnya saya bisa bertemu Pak JK. Tapi sayangnya, kami lupa mengabadikan pertemuan itu dengan foto. Bahkan Pak Nus tak sungkan memperkenalkan saya ke JK. Bukan sebagai bawahan maupun staf. “Kenalkan. Ini Mas Echa. Sahabat saya dari Samarinda,” kata Nusyirwan.  Kalimat yang sampai sekarang masih terkenang di dalam benak saya dan tak mungkin hilang dimakan waktu. Sore itu antara Nusyirwan dan JK memang lebih banyak membahas kondisi organisasi mereka: PMI. Khususnya terkait struktur kepengurusan di Kaltim. Sesekali ada sentilan sedikit mengenai politik Indonesia. Lain Nusyirwan namanya kalau tidak jago mengolah kata. Pembicaraan bersama JK dibuatnya larut hingga ke masalah pencalonan presiden. Bahkan di akhir pertemuan sore itu, akhirnya JK buka kartu. Secara blak-blakan mengatakan dirinya bakal berpasangan dengan Jokowi. Walaupun, waktu itu proses penjaringan Wapres dari PDIP masih panjang. Tapi kami sudah dapat kunci jawabannya.
”Tolong jangan dibuka ke umum dulu ya pak Nusyirwan. Tunggu tanggal mainnya,” pesan JK. Dan akhirnya sekarang menjadi kenyataan.  
MUDAH AKRAB
Sepenggal kisah tadi meyakinkan saya kalau Nusyirwan merupakan figur yang menggangap semua orang itu sama, tanpa membeda-bedakan. Baik itu bawahan maupun atasan. Di mata Nusyirwan, orang yang mau bekerja dan bisa sejalan dengan visinya bakal selalu dihubunginya. Sejak bekerja di Humas dan Protokol Pemkot Samarinda, jujur saya yang paling suka meliput aksi beliau ketika di lapangan.
Ketegasannya dalam memberikan kesimpulan hasil rapat hingga komitmennya yang selalu tuntas menyelesaikan masalah sosial, membuat saya kepincut menulis tentang aktivitasnya.  
Karena kerjaan ini, akhirnya saya cukup kenyang berhadapan dengan orang nomor dua di balai kota tersebut. Bahkan kedekatan kami tak hanya sebatas kerjaan. Di lain waktu, terkadang Nusyirwan juga kerap memanggil saya untuk ke ruangannya melalui WhatsAppp (WA). Biasanya yang kami bahas adalah tentang wirausaha dan peluang bisnis digital di Kota Tepian. Maklum, Pak Nus sangat mendukung usaha start up yang sedang kami bangun: yakni Pesan Bungkus. Bahkan dia pernah berkata, “Bagus aja kamu sama Ancha buat perusahaan Start Up. Jangan lagi terpikir buat usaha kuliner. Karena sudah terlalu banyak pemainnya. Kada sebanding lagi dengan jumlah pembelinya,” pesan Nusyirwan yang saya iyakan.
Beliaulah yang membuka link hingga akhirnya aplikasi Pesan Bungkus bisa masuk di Bank Indonesia. Karena background-nya pernah menjabat sebagai kepala Disperindag Kaltim dan juga sering memberi pelatihan kewirausahaan. Jadi jangan heran kalau Pak Nus sangat akrab dengan staf yang memiliki semangat dan jiwa entrepreneur.
Satu lagi cita-cita beliau yang pernah meminta pendapat saya. Mengenai keinginannya untuk membuka usaha rumah kecantikan wanita. ”Rencana Ayu yang jalankan usaha ini Cha. Tapi kaina (nanti, Red) setalah dia lulus dulu dari pendidikan spesialis kulit,” harapnya. Ayu adalah anak keduanya yang berprofesi sebagai dokter.
Pertemuan terakhir kami pada 12 Februari di arena GOR Segiri Samarinda, saat momen pembukaan Pekan Raya Samarinda dan Pesta Wirausaha, Pak Nus masih semangat mendatangi para mengunjungi tenant yang berpartisipasi pada even tersebut. Padahal info dari ajudan, agenda beliau waktu itu sangat padat mulai pagi. Bahkan di akhir pidatonya, ia sempat berpantun "Jalan-jalan ke kota Tepian jangan lupa makan ikan, PRS tahun depan harga mati harus tetap berjalan."  
Dan di momen itu pula percakapan terakhir saya bersama beliau ketika saya mengundang kembali Pak Nus untuk hadir kembali pada malam harinya pada acara madihinan. Karena statusnya sebagai calon wakil gubernur Kaltim, jadi sudah banyak agenda lain yang menunggunya.
"Sampaikan aja salamku buat Jhon Tralala. Maaf malam ini kada kawa datang karena harus hadir di acara lain," ungkapnya sambil menuju mobil.
Tak disangka Momen itu kenangan terkhir bersamanya. Selasa 27 Februari 2018 Pak Nus mengembuskan napas terakhir di RSUD AW Sjahranie setelah drop sejak Jumat (23/2) lalu. Sambil menulis cerita ini dan mengenang masa lalu bersama beliau, tak terasa air mata berderai berjatuhan. Orang tua, guru dan salah satu panutan saya telah berpulang. Selamat jalan Pak Nus. Semoga Allah menerima amal ibadah pian selama di dunia. (*/nha)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 23:05

Sumber Api dari Kamar Mesin

SAMARINDA. Sejumlah pekerja di areal galangan kapal PT Niaga Baru di RT 6, Kelurahan Bukuan, Kecamatan…

Selasa, 16 Oktober 2018 23:28

DBD Renggut Nyawa Anak di Palaran

SAMARINDA. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggang nyawa. Hal ini dilaporkan oleh satu…

Senin, 15 Oktober 2018 22:48

Habib Umar Diisukan Diciduk Densus

SAMARINDA. Isu tak sedap menerpa kedatangan Guru Mulia Al'Alimul' Allaamah Al Arif Billah, Al Habib…

Senin, 15 Oktober 2018 22:39

"Gempa" di Loa Janan

SAMARINDA. Gempa 7,4 skala richter di Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa waktu lalu, seolah kembali…

Senin, 15 Oktober 2018 00:16

Isran “Haramkan” Antrean Panjang di SPBU

SAMARINDA. Belum sebulan pasca dilantik sebagai Gubernur Kaltim, Isran Noor mulai mereview kembali janji-janji…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:37

Penculik Anak Berkeliaran, Warga Samarinda Resah

SAMARINDA. Kabar penculikan anak di luar Samarinda membuat orangtua khususnya ibu rumah tangga (IRT)…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:35

Jaga Salat, Niscaya Musibah Diangkat

Kedatangan ulama besar asal Tarim, Hadramaut, Habib Umar Bin Hafidz di Samarinda menjadi magnet. Bak…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:09

Tak Tahan Tanah Terus Tergerak-gerak

Gempa dan tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) masih menyimpan…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:47

Wanita Hamil Nyaris Dibakar

SAMARINDA. Usman tergolong pria yang sangat sadis. Dihadapan anak-anaknya, pria paruh baya itu nyaris…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:46

Berkat Batang Kayu, Berebut Keluar Kota Palu

TAK ada yang menyangka jika Kota Palu akan luluh lantak akibat gempa dan tsunami.  Termasuk belasan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .