MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Kamis, 18 Januari 2018 15:35
Pakai Baju Bak Astronot, Pantang Pulang sebelum Steril

Mengintip Keberanian Perawat RSUD AW Sjahranie Tangani Pasien Difteri

KEAMANAN MAKSIMUM. Perawat yang menangani pasien difteri diwajibkan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap.

PROKAL.CO, Merawat pasien difteri bukan hal mudah. Jika tak berhati-hati bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Tapi di situlah profesionalitas seorang perawat diuji.

Zakarias Demon Daton


Teras di ruang Seruni RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda tampak sepi, Selasa (16/1) siang. Hanya beberapa orang terlihat duduk melantai. Sebagian lainnya sedang makan di kantin tak jauh dari lokasi ini. Mereka rata-rata keluarga pasien. Di dalam gedung inilah puluhan pasien difteri dirawat.
Sejumlah perawat tampak sibuk bolak-balik masuk ruangan. Mereka melakukan kontrol pasien. Sebagian lainnya mencatat hasil perkembangan pasien. Di ruang ini pula 13 pasien difteri positif dan 15 pasien suspect atau terindikasi difteri terbaring.
Untuk pasien positif ditempatkan di kamar terpisah dengan para pasien suspect. Kapasitas kamar variatif. Ada kamar berkapasitas 5 pasien. Ada pula kamar dengan kapasitas 2 pasien. Total seluruhnya ada 27 tempat tidur 5 kamar ini.
Ruangan ini terisolasi dari semua pengunjung. Kecuali ibu kandung dari pasien anak-anak. Itupun dibekali safety yang kuat agar tidak berdampak. Ya, rata-rata pasien difteri masih usia anak 10 tahun ke bawah, sehingga mereka perlu penjagaan dari ibunda. Bagi pasien dewasa tidak diwajibkan penjagaan keluarga. Ini bertujuan meminimalisir penyebaran bakteri.
Perawat ataupun dokter yang melakukan kontrol ke ruangan pasien menggunakan alat pelindung diri (APD). Mereka lengkap berseragam layaknya para astronot yang hendak menuju luar angkasa. Dari baju plastik panjang, dilengkapi topi, sepatu bot, kacamata, hingga masker tebal. Masker mereka didesain lebih khusus. Namanya masker N95 atau Respirator N95 lebih tebal dari masker biasa.
Kepala Ruang Seruni, Siti Naisa Umar mengungkapkan bahwa untuk perawatan satu pasien biasanya dilakukan dua perawat sekaligus, termasuk saat mengambil sampel uji di laboratorium. Pasien membuka mulut lalu perawat mengambil zat putih di tenggorokan menggunakan alat khusus lalu dikirim ke lab untuk diperiksa.
“Setelah keluar dari ruang pasien, mereka (perawat, Red) tidak dibolehkan jalan ke sana ke mari. Harus menuju ruang ganti dan segera mengganti semua APD, baru bisa keluar bergabung sama perawat lain di ruang penjagaan. Pokoknya, harus steril baru bisa keluar,” terangnya menceritakan cara perawat pasien difteri.
Para pasien ini ditangani dua dokter, dr Cartha dan dr Sukartini. Setiap hari kedua dokter ini memeriksa perkembangan pasien. Mereka diberi obat setiap hari. Sementara untuk perawat semuanya berjumlah 29 orang bertugas di ruang Seruni. Mereka dibagi dua tim untuk tiga sif. Pagi, sore dan malam. Khusus pagi perawatnya agak banyak karena lebih banyak tindakan medisnya. Sementara sore dan malam masing-masing ada lima perawat yang jaga.
Para pasien difteri dikhususkan pada dua ruang sebelah kiri gedung Seruni. Sementara sebelah kanan ada pula pasien TBC, jantung, dan lainnya. Yang lainnya disebar di ruang Melati. Tapi pusatnya memang di ruang ini.
"Ada 4 orang sudah diambil sampelnya dan sedang diperiksa hari ini (Kemarin, Red) di lab,” tuturnya. Senin (15/1) lalu ada 4 orang sudah dipulangkan karena hasil uji lab tiga kali negatif berturut-turut. Mereka boleh beristirahat di rumah dan melakukan kontrol setiap pekan.
Selasa (16/1) ada 6 orang lagi kembali dipulangkan beristirahat di rumah. Karena hasil test lab dinyatakan dinyatakan negatif berturut turut. Sehingga total selama dua hari ini ada 11 orang sudah dipulangkan. (*/beb)


loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 23:05

Sumber Api dari Kamar Mesin

SAMARINDA. Sejumlah pekerja di areal galangan kapal PT Niaga Baru di RT 6, Kelurahan Bukuan, Kecamatan…

Selasa, 16 Oktober 2018 23:28

DBD Renggut Nyawa Anak di Palaran

SAMARINDA. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggang nyawa. Hal ini dilaporkan oleh satu…

Senin, 15 Oktober 2018 22:48

Habib Umar Diisukan Diciduk Densus

SAMARINDA. Isu tak sedap menerpa kedatangan Guru Mulia Al'Alimul' Allaamah Al Arif Billah, Al Habib…

Senin, 15 Oktober 2018 22:39

"Gempa" di Loa Janan

SAMARINDA. Gempa 7,4 skala richter di Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa waktu lalu, seolah kembali…

Senin, 15 Oktober 2018 00:16

Isran “Haramkan” Antrean Panjang di SPBU

SAMARINDA. Belum sebulan pasca dilantik sebagai Gubernur Kaltim, Isran Noor mulai mereview kembali janji-janji…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:37

Penculik Anak Berkeliaran, Warga Samarinda Resah

SAMARINDA. Kabar penculikan anak di luar Samarinda membuat orangtua khususnya ibu rumah tangga (IRT)…

Jumat, 12 Oktober 2018 23:35

Jaga Salat, Niscaya Musibah Diangkat

Kedatangan ulama besar asal Tarim, Hadramaut, Habib Umar Bin Hafidz di Samarinda menjadi magnet. Bak…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:09

Tak Tahan Tanah Terus Tergerak-gerak

Gempa dan tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) masih menyimpan…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:47

Wanita Hamil Nyaris Dibakar

SAMARINDA. Usman tergolong pria yang sangat sadis. Dihadapan anak-anaknya, pria paruh baya itu nyaris…

Kamis, 04 Oktober 2018 23:46

Berkat Batang Kayu, Berebut Keluar Kota Palu

TAK ada yang menyangka jika Kota Palu akan luluh lantak akibat gempa dan tsunami.  Termasuk belasan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .