MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
UTAMA | SAMARINDA | METROPOLIS | OLAHRAGA | KALTIM | METROLIFE | BUJUR-BUJUR

UTAMA

Rabu, 06 Desember 2017 17:41
Wajib Begadang, Omzet Jutaan Menguap

Ketika Rezeki Warga Terhalang Banjir

PROKAL.CO, Kawasan simpang empat Sempaja, Samarinda Utara, tak pernah luput dari banjir ketika hujan. Masyarakat Sempaja pun tampaknya sudah mafhum dan legowo dengan penderitaan yang mereka rasakan berpuluh-puluh tahun ini.

SYAMSUMARLIN, SAMARINDA

Suprani (58) baru saja menurunkan karung beras 25 Kg dari motor, tepat di depan rumahnya, di Gang Melati, RT 14, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Motor dan sandalnya masih lembab setelah melewati banjir di Jalan KH Wahid Hasyim I. Sudah sejak pagi kawasan itu diselimuti banjir. Rumah kakek empat cucu ini sengaja ditinggikan lebih dari satu meter. Sehingga air tak lagi bisa menggenangi lantai seluruh rumahnya seperti empat tahun lalu.
“Saya habiskan Rp 15 juta untuk menaikkan rumah ini. Ada teman yang kasihan lihat rumah saya kebanjiran terus, dia mau dibayar murah untuk merenovasi,” kata Suprani membuka pembicaraan dengan media ini, kemarin siang.
Bicara banjir, Suprani yang masih bekerja sebagai sopir truk ini tampak berusaha mengingat bagaimana awal mula kawasan Sempaja berubah jadi sungai dadakan ketika hujan. Menurutnya, sejak tahun 1976 kawasan Sempaja memang sudah sangat akrab dengan banjir. Sebab kawasan tersebut memang lahan persawahan, lahan yang kini menjadi kompleks GOR Madya Sempaja.
“Di sini dulunya memang sawah. Jadi ya memang sering banjir. Tapi memang dulu tak separah sekarang. Dulu jarang banjir sebesar saat ini. Nah setelah kawasan Sempaja padat, perumahan banyak dan pematangan lahan juga banyak, banjirnya makin sering. Bahkan setiap kali hujan banjir,” ucapnya.  
Namun bedanya, luapan air dari kawasan Batu Cermin, Sempaja Ujung dan Air Hitam (Jalan AW Sjahranie) tak sekeruh saat ini. Dulu, air banjir jernih dan menggoda anak-anak untuk berenang. Sementara saat ini sangat keruh dan bahaya. Bahkan, kata Suprani, pernah ada jatuh korban meninggal di daerah simpang empat Sempaja. “Ada anak temanku yang terbawa arus dan meninggal,” kenangnya.
Diakui Suprani, banjir memang sangat merepotkan dia dan keluarganya. Ketika banjir tiba di malam hari, lantai rumahnya tergenang hingga 50 sentimeter. Kalau sudah begitu, semalaman dia tak bisa tidur. Kursi dan ranjang terpaksa jadi tempat penumpukan barang-barang berharga agar tak rusak diterjang banjir. “Ya gak tidur. Kalau soal ular sih pernah ada ular sawah. Tapi kita enggak khawatir kalau itu. Cuma repotnya itu karena harus angkat-angkat barang,” kata pria berbadan tegap ini.
Sama halnya dengan Suprani, pemilik toko sepatu, pakaian dan kaligrafi di simpang empat Sempaja, Agus, juga mengalami kerugian materi. Bahkan ayah dari Rahman ini harus rela kehilangan jutaan rupiah karena banjir. Sebab, nyaris tak ada pelanggan yang mampir dalam kondisi banjir. “Buat apa buka, enggak ada juga yang beli. Apalagi kalau arusnya deras. Siapa yang mau mampir,” katanya.  
Alasan Agus cukup masuk akal. Posisi tokonya tepat di pinggir jalan sangat tak diuntungkan ketika banjir di kawasan tersebut. Masyarakat yang kini punya jalur alternatif ketika banjir, yakni menggunakan jalur masuk di Komplek Stadion Madya Sempaja dari Jalan KH Wahid Hasyim I, lalu keluar di Jalan PM Noor lalu kembali masuk ke Jalan Ahim. Begitu juga sebaliknya bagi warga yang menggunakan jalur alternatif itu ketika banjir. “Banjir ini benar-benar menurunkan merugikan penjualan saya. Apalagi dengan kondisi ekonomi sekarang, omzet saya hanya di bawah satu juta sehari. Kalau dulu lebih dari itu,” ungkap pria yang sudah menggeluti usaha konveksinya selama 15 tahun belakangan ini.
Pengakuan Agus diperkuat Siti Mulyana, karyawan Agus. Lia, sapaan akrabnya mengaku bisa meraup Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta dalam kondisi cuaca normal. Namun ketika banjir, nyaris tak ada konsumen yang mau mampir ke tokonya. Apalagi tempat dia berjualan tepat di lokasi terparah ketika banjir. “Sepi sekarang, sering tutup kalau banjir. Kalau banjir paling buka setengah hari. Tapi kalau hujan sore, ya tutup sampai besoknya karena malam pasti banjir,” bebernya.
Baik Suprani, Agus muapun Lia bersama ratusan ribu penduduk Samarinda punya harapan yang sama. Berharap Kota Tepian bebas banjir, meski itu mustahil terjadi dalam waktu dekat. Namun setidaknya harapan itu tersampaikan ke Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang melalui pengakuan mereka. “Maunya kita enggak banjir lagi. Pemerintah harus punya rencana yang baik agar sebelum terjadi banjir sudah diantisipasi. Itu aja,” harap Suprani. (*/beb)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 21:15
Tujuh Bersaudara yang Mengubah Takdir Lewat Gulat

Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji

Proses tak pernah membohongi hasil. Hal inilah yang dialami tujuh bersaudara yang menempuh jalan hidup…

Minggu, 10 Desember 2017 20:42

Beasiswa Macam-macam Ringankan Beban Orangtua

Kalau anak pejabat lulus di universitas luar negeri dengan hasil memuaskan mungkin hal biasa. Karena…

Sabtu, 09 Desember 2017 13:26

Terabaikan karena Perebutan Kawasan

Kaya dengan batu bara belum tentu membawa kesejahteraan. Di Kampung Berambai dengan potensi emas hitam…

Sabtu, 09 Desember 2017 13:23

Mengerikan, 6 Kasus Difteri di Kaltim

SAMARINDA. Penyakit difteri mendadak ramai diperbincangkan belakangan ini. Infeksi yang disebabkan bakteri…

Jumat, 08 Desember 2017 15:03

Satu Bangunan, Tiga Guru, Enam Kelas

Perjuangan meraih pendidikan seperti di dalam novel Laskar Pelangi terjadi di mana-mana. Tak perlu jauh…

Jumat, 08 Desember 2017 15:01

Peluru Misterius Nyaris Dikilokan

SAMARINDA. Menjelang Magrib, La Ibu bergegas menuju tempat kerjanya. Bukan kantor mewah melainkan hanya…

Jumat, 08 Desember 2017 14:59

Di Sekolah Santun, di Lapangan Jadi Jenderal

Kepergian Muhammad Toha Yasin bukan cuma kehilangan bagi keluarga dan kerabatnya. Bakatnya di lapangan…

Kamis, 07 Desember 2017 15:59

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

“Allah Akbar… Allah Akbar…” Kalimat takbir saling bersahutan dikumandangkan…

Kamis, 07 Desember 2017 15:57

Kematian Kecelakaan Penuh Kejanggalan

SANGATTA. Pihak keluarga curiga dan penasaran terhadap kematian Ibrahim Sembe (38), warga Kampung Tator,…

Kamis, 07 Desember 2017 15:54

Tak Bisa Andalkan Mata, Cukup Meraba-raba

Kerja para relawan dan Tim SAR dalam setiap proses pencarian dan evakuasi korban tenggelam, memiliki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .