MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
KRIMINAL | METROPOLIS | HOT PROMO | BORNEO FC | GAYA
Senin, 04 Desember 2017 00:27
YAHHH ... PDAM Belum Bisa Cari Untung

Tarif Naik, Masyarakat Diminta Berhemat

BEBAS SUBSIDI. Meski sudah menaikkan tarif, PDAM Kutim tetap tak bisa mendapatkan untung. Kualitas air bersih yang dipasok ke warga tetap dijaga. (net)

PROKAL.CO, SANGATTA. Akibat kenaikan tarif air,  masyarakat melakukan penghematan penggunaan air. Hal ini terlihat dari data penggunaa air di PDAM Kutim. Hal tersebut diakui Direktur Utama PDAM Kutim Aji Mirni Mawarni.
“Sejak awal kami mengimbau agar masyarakat menghemat air. Ternyata setelah tarif air naik, baru mereka menghemat air. Rata-rata mereka menghemat air hingga sepuluh persen,” beber Mawar.
Diakui Mawar, meskipun ada pengguraangan penggunaan air, namun dari segi pendapatan PDAM tetap naik. Hal ini karena ada kenaikan tarif yang berkisar 34-50 persen. Dampak dari penghematan penggunaan air masyarakat adalah, masyarakat lain yang selama ini belum dapat air juga ikut mendapat pasokan air.
“Kami berharap masyarakat terus menghemat air, untuk menekan pengeluaran. Sebab kenaikan tarif PDAM, masih akan berlanjut tahun depan. Sebab kenaikan kali ini masih tahap pertama. Masih ada tahap kedua yang akan diberlakukan tahun depan,” ungkapnya.
Seperti diketahui, menaikan tarif air  dengan alasan untuk meningkatkan cakupan pelayanan.  Sebab 2019 seharusnya target PDAM harus mampu melayani 60 persen penduduk Kutim,  sama dengan target nasional. Sementara saat ini, masih di kisaran 40 persen.
“Khusus Kota Sangatta, sudah 60 persen. Tapi Kutim, baru 40 persen cakupan pelayanan. Karena itu kita naikkan tarif untuk meningkatkan cakupan pelayanan agar harapan mencapai target cakupan layanan 2019, 60 persen penduduk Kutim bisa tercapai,” terang Mawar.
Diakui Mawar, seharusnya dengan kenaikan tarif ini, maka PDAM sudah bisa untung 5 hingga 10 persen pendapatan. Hanya saja, karena masih dalam jangka perluasan pelayanan, karena itu PDAM hanya menargetkan jalan tanpa subsidi.
“Jadi dengan kenaikan tarif ini,  maka biaya produksi sudah sama dengan pemasukan (full cost recovery). Jadi tak perlu subsidi pemerintah lagi untuk biaya operasional. Jadi belum bisa cari untung,” ulasnya.
Mawar mengakui, meskipun diakui selama ini yang jadi beban utama poduksi adalah biaya solar,  untuk saat ini pun masih sama. Sebab  dari sekian instalasi pengolahan air (IPA) PDAM, baru IPA Kabo di Sangatta Utara, yang menggunakan listrik PLN. Sedangan IPA lain, masih menggunakan genset.
“Jadi beban solar masih tetap tinggi, karena IPA di kecamatan itu masih menggunakan genset yang menggunakan solar,” tandasnya. (jn/rin)
















loading...

BACA JUGA

Selasa, 13 Oktober 2015 13:45

Rumah Terbakar, Pemilik Masuk RS

<p>TANJUNG REDEB. Begitu melihat api berkobar di atas rumahnya, Made, warga Jalan AKB Sanipah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .